Kamis, 12 November 2015

ARTIKEL ; Urgensi Kaderisasi Dalam Sebuah Organisasi

ARTIKEL ; Urgensi Kaderisasi Dalam Sebuah Organisasi
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”. (An-Nisa : 09)
Dari kutipan ayat di atas, jelas sudah betapa pentingnya peranan kaderisasi dalam suatu organisasi. Kaderisasi yang akan menjaga kelangsungan organisasi agar kader-kader sebagai penggerak pada organisasi tersebut tetap “loyal”. Suatu kepengurusan dikatakan berhasil bukan hanya dilihat dari guratan-guratan prestasi yang ditorehkan dalam periode kepengurusannya. Akan tetapi termasuk kualitas dan kuantitas kader penerus yang akan membawa estafet kepengurusannya.
Setelah beberapa bulan mengamati kegiatan keorganisasian diligkup IPNU dan IPPNU Kec. Moga, ada beberapa hal yang mulai saya pahami terkait dengan kaderisasi. Dulu saat masih di SMA yang saya pahami kaderisasi tugasnya hanya mengadakan  Sharing and Training, nggojlog-nggojlog gak genah, serta mengawasi jalannya sebuah pertmuan-pertemuan. Namun kini saya pahami ternyata peran kaderisasi lebih dari itu. Bahkan keberadaannya menjadi sangat penting hingga terkadang hanya “orang-orang pilihan” yang ditugaskan dalam program ini.
Mungkin banyak yang heran sekaligus masih bertanya-tanya kenapa harus ada kaderisasi dalam setiap organisasi. Baik itu di organisasi-organisasi di kampus ataupun organisasi kemasyarakatan pasti memiliki satu bagian yang mengurus kaderisasi. Apa sebegitu pentingnya kaderisasi untuk organisasi?? Mari kita telaah secara bersama-sama. 
Kaderisasi bisa diibaratkan sebagi jantungnya sebuah organisasi, tanpa adanya kaderisasi rasanya sulit dibayangkan suatu organisasi mampu bergerak maju dan dinamis. Hal ini karena kaderisasilah yang menciptakan embrio-embrio baru yang nantinya akan memegang tongkat estafet perjuangan organisasi. Kaderisasi berusaha menciptakan kader yang bukan hanya hebat dalam mengerjakan suatu program, tapi lebih dari itu. Kaderisasi haruslah mampu menciptakan kader yang memiliki jiwa pemimpin, memiliki emosi yang terkontrol, kreatif dan mampu menjadi pemberi solusi untuk setiap permasalahan, harus memiliki mental yang kuat  dan  yang terpenting dapat menjadi seorang teladan bagi anggotanya.
Dalam proses kaderisasi ada dua ikon penting, yaitu Pelaku Kaderisasi (subjek) dan Sasaran Kaderisasi (objek). Pelaku kaderisasi adalah individu-individu yang telah memiliki kapasitas yang mantap dan kuat  untuk mengkader semua anggotanya dan memahami alur atau berjalannya kaderisasi dalam organisasi tersebut.  Sedangkan sasaran kaderisasi adalah individu-individu yang dipersiapkan dan dilatih untuk menjadi penerus visi dan misi organisasi.
Jadi, Kaderisasi merupakan suatu kebutuhan internal yang  dilakukan demi kelangsungan dan kelancaran organisasi. Seperti halnya dengan hukum alam dengan  adanya suatu siklus, dimana semua proses pasti akan terus berulang - ulang  dan terus berganti. Namun semua itu harus ada  satu yang perlu kita pikirkan, yaitu format dan mekanisme yang komprehensif dan mapan, guna memunculkan kader-kader yang tidak hanya mempunyai kemampuan di bidang manajemen organisasi, tapi yang lebih penting adalah memiliki mental atau karakter serta  tetap berpegang pada komitmen sosial dengan segala dimensinya. Sukses atau tidaknya dalam sebuah organisasi dapat diukur dari kesuksesan dalam proses kaderisasi internal yang di kembangkannya. Karena, wujud dari keberlanjutan organisasi adalah munculnya kader-kader yang memiliki kapabilitas dan komitmen terhadap dinamika organisasi untuk masa depan. Bung Hatta pernah bertutur mengenai kaderisasi, “Bahwa kaderisasi sama artinya dengan menanam bibit. Untuk menghasilkan pemimpin bangsa di masa depan, pemimpin pada masanya harus menanam.”
Bicara tentang kualitas organisasi, ini takkan pernah terlepas dengan pembahasan kader yang ada di dalamnya. Baik secara kualitas terlebih pada sisi kualitas para kader penggerak. Oleh karena itu, guna memperbaiki output kerja organisasi perlu adanya peningkatan kader baik dari sisi kuntitas dan kualitas. Dua hal ini menjadi sesuatu yang tak terelakkan, dan prioritasnya lebih kepada kuantitas dibanding dengan kualitas, meski keduanya juga tetap menentukan baik buruknya output kinerja suatu organisasi.
Uraian di atas menyebutkan bahwa sistem kaderisasi yang baik dan peningkatan kapasitas untuk kader menjadi permasalahan urgent sebelum organisasi tersebut berputar dalam roda kepengurusan. Secara garis besar ada empat hal yang menjadi fokusan untuk menjalankannya, yakni : publikasi, pemahaman, pengkaryaan, monitoring dan evaluasi.
Sebuah pernyataan klasik dalam kalangan Event Organizer, bahwa “Publikasi adalah kunci dari keberhasilan kegiatan”. Hal ini juga berlaku dalam suatu organisasi. Publikasi terkait open recruitment suatu organisasi bertujuan untuk menjaring kader dalam jumlah sebanyak-banyaknya, terlepas apakah nantinya akan diadakan seleksi formal atau tidak. Hendaknya publikasi ini dilangsung jauh-jauh hari sebelum hari H, menarik dan masif. Hal ini dimaksudkan agar khalayak yang melihat akan tertarik dan mengikuti serangkaian open recruitmen dari organisasi yang bersangkutan. “Popularitas” dari organisasi yang bersangkutan juga  sangat mempengaruhi publik untuk mengikuti organisasi tersebut. Kata “popularitas” disini yang dimaksudkan adalah dipengaruhi oleh prestasi dalam organisasi tersebut, latar belakang sejarah, kemanfaatan organisasi, dan tingkat ke-profesionalitas-an yang mewarnai organisasi tersebut. Jika itu dipunya dalam organisasi, maka tanpa diminta pun orang-orang akan berbondong-bondong untuk mengikuti organisasi tersebut. Misal dengan mengikuti organisasi tersebut seseorang akan memdapatkan link atau jaringan orang-orang besar, mendapatkan tambahan skill dalam kemediaan yang tinggi ditambah organisasi tersebut meraih banyak prestasi diberbagai ajang kegiatan. Selain itu, para penguru organisasi hendaklah mengajak secara munfaridan (person to person), karena ini termasuk langkah efektif untuk menjaring kader.
Anggap saja sekarang kader sudah mulai terjaring. Langkah selanjutnya adalah tahap pemahaman. VISI dan MISI yang jelas dari organisasi perlu tertanam dalam sanubari tiap-tiap kader. Karena Ia adalah tujuan dalam bergerak yang akan membawa kepada kejelasan. Analogi yang bisa dipakai disini adalah dalam surat menyurat. Alamat surat teramat penting karena itu sebagai tujuan surat itu disampaikan. Seandainya dalam surat tersebut tidak ada alamat surat maka hal itu akan berujung kepada ketidak jelasan. Bahkan surat tidak akan pernah sampai tujuan. Lebih sempitnya dalam organisasi kampus, perlu adanya pemahaman mendasar mengapa para kader mesti ikut organisasi ini. Yang pasti organisasi kampus adalah berbasis sukarela, tidak ada bayaran untuk bekerja disini. Maka kader perlu dipahamkan tentang kemanfaatan dan kelebihan jika mereka bergabung dalam organisasi tersebut. Jadi tiada ada istilah disorientasi pada kader ditengah perjalanan nanti, karena mereka telah mendapatkan pemahaman kuat di awal, memiliki niat dan tekad untuk ikut berjuanga di organisasi tersebut.
Pengkaryaan adalah poin utama dari seseorang mengikuti organisasi. Mereka bergabung karena mereka menginginkan sebuah pengkaryaan yang dengannya mereka akan mendapatkan tambahan skill , jaringan dan pengalaman lainnya. Kader muda harus segera diberi sebuah pengkaryaan agar tidak terjadi perasaan “kosong” dalam mengikuti organisasi tersebut. Dengan pengkaryaan, kader merasa dihargai dan merasa fungsional dalam organisasi ybs. Tanpanya dimungkinkan kader akan lepas satu persatu karena mereka merasakanuseless berada lingkup organisasi tersebut. Pemetaan pengkaryaan tentunya disesuaikan dengan minat dan bakat dari kader itu sendiri, ini didapatkan dari tahap open recruitmen kader. Masing-maisng kader mestilah memiliki “tugas” yang jelas dan spesifik. Kaya yang lebih tetap disini adalah spesialisasi. Misalnya kader minat dalam jaringan, redaksi, tim design atau admin website maka Ia akan fokus disana, meski tidak menutup kemungkinan belajar yang lain. Ini akan memberikan kejelasan dan keteraturan gerak. Meski kader muda dari segi kemampuan memang kurang, maka inilah fungsi dari pengkaryaan untuk pengingkatan kompetensi. Perlu adanya kepercayaan penuh dari senior kepada kader muda dan pendampingan oleh kader senior. Seiring berjalannyawaktu makan kapsistas kader akan ter-upgrade.
Tahap terakhir adalah monitoring dan evaluasi kader. Setelah proses sebelumnya berjalan, maka perlu adanya monitoring dan evaluasi kader. Seberapa jauh perkembangan kapasitas kader, sebarapa besar tingkat keloyalan kader pada organisasi dan yang lebih penting adalah kenyamanan kader berada dalam organisasi tersebut. Apakah hal tersebut sudah memenuhi standar mutu kader yang ditetapkan ataukah belum. Dari situ dapat dilihat tindakan apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan kader di lapangan. Dengan empat langkah besar ini, sudah menjadi suatu keniscayaan kader pada organisasi tersebut akan subur baik dalam segi kualitas maupun kuantitas yang tak lain akan sangat berpengaruh pada kelangsungan organisasi yang bersangkutan.

A. M.
(Disadur dari Beberapa Artikel Terkait Kaderisasi dengan Sedikit Penambahan)


0 komentar:

Posting Komentar