“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya
meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir
terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa
kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”. (An-Nisa : 09)
Dari kutipan ayat di atas, jelas sudah betapa pentingnya peranan
kaderisasi dalam suatu organisasi. Kaderisasi yang akan menjaga kelangsungan
organisasi agar kader-kader sebagai penggerak pada organisasi tersebut tetap
“loyal”. Suatu kepengurusan dikatakan berhasil bukan hanya dilihat dari
guratan-guratan prestasi yang ditorehkan dalam periode kepengurusannya. Akan
tetapi termasuk kualitas dan kuantitas kader penerus yang akan membawa estafet
kepengurusannya.
Setelah beberapa bulan mengamati kegiatan keorganisasian diligkup
IPNU dan IPPNU Kec. Moga, ada beberapa hal yang mulai saya pahami terkait
dengan kaderisasi. Dulu saat masih di SMA yang saya pahami kaderisasi tugasnya
hanya mengadakan Sharing and Training, nggojlog-nggojlog gak
genah, serta mengawasi jalannya sebuah pertmuan-pertemuan. Namun kini saya
pahami ternyata peran kaderisasi lebih dari itu. Bahkan keberadaannya menjadi
sangat penting hingga terkadang hanya “orang-orang pilihan” yang ditugaskan
dalam program ini.
Mungkin banyak yang heran sekaligus masih bertanya-tanya kenapa
harus ada kaderisasi dalam setiap organisasi. Baik itu di organisasi-organisasi
di kampus ataupun organisasi kemasyarakatan pasti memiliki satu bagian yang
mengurus kaderisasi. Apa sebegitu pentingnya kaderisasi untuk organisasi?? Mari
kita telaah secara bersama-sama.
Kaderisasi bisa diibaratkan sebagi jantungnya sebuah organisasi,
tanpa adanya kaderisasi rasanya sulit dibayangkan suatu organisasi mampu
bergerak maju dan dinamis. Hal ini karena kaderisasilah yang menciptakan
embrio-embrio baru yang nantinya akan memegang tongkat estafet perjuangan
organisasi. Kaderisasi berusaha menciptakan kader yang bukan hanya hebat dalam
mengerjakan suatu program, tapi lebih dari itu. Kaderisasi haruslah mampu
menciptakan kader yang memiliki jiwa pemimpin, memiliki emosi yang terkontrol,
kreatif dan mampu menjadi pemberi solusi untuk setiap permasalahan, harus
memiliki mental yang kuat dan yang terpenting dapat menjadi seorang
teladan bagi anggotanya.
Dalam proses kaderisasi ada dua ikon penting, yaitu Pelaku
Kaderisasi (subjek) dan Sasaran Kaderisasi (objek). Pelaku kaderisasi adalah
individu-individu yang telah memiliki kapasitas yang mantap dan kuat
untuk mengkader semua anggotanya dan memahami alur atau berjalannya kaderisasi
dalam organisasi tersebut. Sedangkan sasaran kaderisasi adalah
individu-individu yang dipersiapkan dan dilatih untuk menjadi penerus visi dan
misi organisasi.
Jadi, Kaderisasi merupakan suatu kebutuhan internal yang
dilakukan demi kelangsungan dan kelancaran organisasi. Seperti halnya dengan
hukum alam dengan adanya suatu siklus, dimana semua proses pasti akan
terus berulang - ulang dan terus berganti. Namun semua itu harus
ada satu yang perlu kita pikirkan, yaitu format dan mekanisme yang
komprehensif dan mapan, guna memunculkan kader-kader yang tidak hanya mempunyai
kemampuan di bidang manajemen organisasi, tapi yang lebih penting adalah
memiliki mental atau karakter serta tetap berpegang pada komitmen sosial
dengan segala dimensinya. Sukses atau tidaknya dalam sebuah organisasi dapat
diukur dari kesuksesan dalam proses kaderisasi internal yang di kembangkannya.
Karena, wujud dari keberlanjutan organisasi adalah munculnya kader-kader yang
memiliki kapabilitas dan komitmen terhadap dinamika organisasi untuk masa
depan. Bung Hatta pernah bertutur mengenai kaderisasi, “Bahwa kaderisasi
sama artinya dengan menanam bibit. Untuk menghasilkan pemimpin bangsa di masa
depan, pemimpin pada masanya harus menanam.”
Bicara tentang kualitas organisasi, ini takkan pernah terlepas
dengan pembahasan kader yang ada di dalamnya. Baik secara kualitas terlebih
pada sisi kualitas para kader penggerak. Oleh karena itu, guna memperbaiki
output kerja organisasi perlu adanya peningkatan kader baik dari sisi kuntitas
dan kualitas. Dua hal ini menjadi sesuatu yang tak terelakkan, dan prioritasnya
lebih kepada kuantitas dibanding dengan kualitas, meski keduanya juga tetap
menentukan baik buruknya output kinerja suatu organisasi.
Uraian di atas menyebutkan bahwa sistem kaderisasi yang baik dan
peningkatan kapasitas untuk kader menjadi permasalahan urgent sebelum
organisasi tersebut berputar dalam roda kepengurusan. Secara garis besar ada
empat hal yang menjadi fokusan untuk menjalankannya, yakni : publikasi,
pemahaman, pengkaryaan, monitoring dan evaluasi.
Sebuah pernyataan klasik dalam kalangan Event Organizer, bahwa
“Publikasi adalah kunci dari keberhasilan kegiatan”. Hal ini juga
berlaku dalam suatu organisasi. Publikasi terkait open recruitment suatu
organisasi bertujuan untuk menjaring kader dalam jumlah sebanyak-banyaknya,
terlepas apakah nantinya akan diadakan seleksi formal atau tidak. Hendaknya
publikasi ini dilangsung jauh-jauh hari sebelum hari H, menarik dan masif. Hal
ini dimaksudkan agar khalayak yang melihat akan tertarik dan mengikuti
serangkaian open recruitmen dari organisasi yang bersangkutan. “Popularitas”
dari organisasi yang bersangkutan juga sangat mempengaruhi publik untuk
mengikuti organisasi tersebut. Kata “popularitas” disini yang dimaksudkan
adalah dipengaruhi oleh prestasi dalam organisasi tersebut, latar belakang
sejarah, kemanfaatan organisasi, dan tingkat ke-profesionalitas-an yang
mewarnai organisasi tersebut. Jika itu dipunya dalam organisasi, maka tanpa
diminta pun orang-orang akan berbondong-bondong untuk mengikuti organisasi
tersebut. Misal dengan mengikuti organisasi tersebut seseorang akan memdapatkan
link atau jaringan orang-orang besar, mendapatkan tambahan skill dalam
kemediaan yang tinggi ditambah organisasi tersebut meraih banyak prestasi
diberbagai ajang kegiatan. Selain itu, para penguru organisasi hendaklah
mengajak secara munfaridan (person to person), karena ini
termasuk langkah efektif untuk menjaring kader.
Anggap saja sekarang kader sudah mulai terjaring. Langkah
selanjutnya adalah tahap pemahaman. VISI dan MISI yang jelas
dari organisasi perlu tertanam dalam sanubari tiap-tiap kader. Karena Ia adalah
tujuan dalam bergerak yang akan membawa kepada kejelasan. Analogi yang bisa
dipakai disini adalah dalam surat menyurat. Alamat surat teramat penting karena
itu sebagai tujuan surat itu disampaikan. Seandainya dalam surat tersebut tidak
ada alamat surat maka hal itu akan berujung kepada ketidak jelasan. Bahkan
surat tidak akan pernah sampai tujuan. Lebih sempitnya dalam organisasi kampus,
perlu adanya pemahaman mendasar mengapa para kader mesti ikut organisasi ini.
Yang pasti organisasi kampus adalah berbasis sukarela, tidak ada bayaran untuk
bekerja disini. Maka kader perlu dipahamkan tentang kemanfaatan dan kelebihan
jika mereka bergabung dalam organisasi tersebut. Jadi tiada ada istilah disorientasi pada
kader ditengah perjalanan nanti, karena mereka telah mendapatkan pemahaman kuat
di awal, memiliki niat dan tekad untuk ikut berjuanga di organisasi tersebut.
Pengkaryaan adalah poin utama dari seseorang mengikuti organisasi.
Mereka bergabung karena mereka menginginkan sebuah pengkaryaan yang dengannya
mereka akan mendapatkan tambahan skill , jaringan dan pengalaman
lainnya. Kader muda harus segera diberi sebuah pengkaryaan agar tidak terjadi
perasaan “kosong” dalam mengikuti organisasi tersebut. Dengan pengkaryaan,
kader merasa dihargai dan merasa fungsional dalam organisasi ybs. Tanpanya dimungkinkan
kader akan lepas satu persatu karena mereka merasakanuseless berada
lingkup organisasi tersebut. Pemetaan pengkaryaan tentunya disesuaikan dengan
minat dan bakat dari kader itu sendiri, ini didapatkan dari tahap open
recruitmen kader. Masing-maisng kader mestilah memiliki “tugas” yang jelas
dan spesifik. Kaya yang lebih tetap disini adalah spesialisasi. Misalnya
kader minat dalam jaringan, redaksi, tim design atau admin website maka Ia akan
fokus disana, meski tidak menutup kemungkinan belajar yang lain. Ini akan
memberikan kejelasan dan keteraturan gerak. Meski kader muda dari segi
kemampuan memang kurang, maka inilah fungsi dari pengkaryaan untuk pengingkatan
kompetensi. Perlu adanya kepercayaan penuh dari senior kepada kader muda dan
pendampingan oleh kader senior. Seiring berjalannyawaktu makan kapsistas kader
akan ter-upgrade.
Tahap terakhir adalah monitoring dan evaluasi kader.
Setelah proses sebelumnya berjalan, maka perlu adanya monitoring dan evaluasi
kader. Seberapa jauh perkembangan kapasitas kader, sebarapa besar tingkat
keloyalan kader pada organisasi dan yang lebih penting adalah kenyamanan kader
berada dalam organisasi tersebut. Apakah hal tersebut sudah memenuhi standar
mutu kader yang ditetapkan ataukah belum. Dari situ dapat dilihat tindakan apa
yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan kader di lapangan. Dengan
empat langkah besar ini, sudah menjadi suatu keniscayaan kader pada organisasi
tersebut akan subur baik dalam segi kualitas maupun kuantitas yang tak lain
akan sangat berpengaruh pada kelangsungan organisasi yang bersangkutan.
A. M.
(Disadur dari Beberapa Artikel Terkait Kaderisasi dengan Sedikit Penambahan)


0 komentar:
Posting Komentar