"Globalisasi mutlak tak bisa dihindari". Mungkin kalimat itu yang akan keluar dari mulut seorang profesor sekalipun jika ditanya mengenai era sekarang. Ya, benar. Kemajuan
zaman tentu menuntut suatu perlakuan baru atas cara dan langkah yang akan
ditempuh dalam menjalani kehidupan di masa mendatang. Seperti halnya pemuda dan
pemudi masa kini yang tentu memiliki karakter dan tantangan yang berbeda
dibandingkan dengan generasi sebelumnya.
Misalkan
saja di era sekarang yang serba disebut sebagai era digitalisasi, merupakan
sebuah dunia yang mempercepat jarak dan waktu. Generasi muda dalam hal ini
pelajar terhanyut dalam lautan dunia maya. Sudah menjadi pemandangan biasa,
bahwa anak muda sekarang lebih suka menggunakan sosial media seperti facebook,
twitter, wechat, instagram, bbm, dan lainnya dibanding dengan berkumpul
langsung untuk melakukan suatu proses sosial secara nyata. Memang tidak bisa
dipungkiri bahwa era sekarang adalah seperti itu, tak mungkin dibendung, tapi
lebih dalam taraf bagaimana mengelola potensi tersebut.
Peran
sebuah organisasi yang riil secara sosial memang dalam keadaan menurun. Media
digital telah menjadi salah satu kekuatan besar dalam membangun gerakan maupun
mempengaruhi publik terhadap suatu gagasan. Hal ini terlihat dari beberapa
kasus yang berawal dari ide melalui internet lebih menggunakan media sosial
online, sebagai suatu cara untuk menggerakkan banyak orang.
Di
sinilah awal dari bagaimana potensi ini bisa dimanfaatkan secara maksimal dalam
rangka meninjau kembali peranan generasi muda khususnya pelajar NU. Dalam
rangka memberikan kesadaran tentang bagaimana untuk merencanakan masa depan
dirinya sekaligus mengembangkan pemikiran dan idenya dalam proses peranannya sebagai
elemen masyarakat.
Salah
satu organisasi yang berada di ranah pemberdayaan generasi muda ini yaitu IPNU
(Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) dan IPPNU (Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul
Ulama). Organisasi yang fokus dalam upaya untuk membina pelajar, santri dan
mahasiswa yang notebene adalah generasi muda NU.
Generasi
muda yang memiliki kapasitas intelektualitas yang dari proses mengenyam
pendidikan tentu bermuara pada suatu upaya taktis untuk menghasilkan
calon-calon pemimpin masa depan.
IPNU-IPPNU
yang merupakan organisasi yang bersifat “mengurus” pelajar, aspek pengkaderan
sesuai dengan khittah (visi dan misi) dan kultur keaswajaan yang
meliputi bagaimana kader-kader yang dihasilkan memiliki paham Ahlus Sunnah
wal Jama’ah An-Nahdliyah yang mencakup aspek aqidah, syariah dan akhlak.
Peranan
generasi muda yang kini mulai dilirik menjadi sinyal positif atas berlakunya
suatu hukum organisasi sebagai suatu pemegang peranan penting. Hal yang penting
ketika melihat peranan kader-kader IPNU-IPPNU di kancah nasional. Melalui
berbagai bidang yang menjadi bakat dan minatnya menjadikan pemberdayaan secara
menyeluruh menjadi tumpuan bagi peranan organisasi dalam melihat peluang ini.
Garis
haluan IPNU-IPPNU yang menjadi “anak” dari Nahdlatul Ulama merupakan faktor
yang harus mulai dikembalikan lagi. Di samping tetap memperluas cakupan
pengkaderan. Tindak lanjutnya dapat diberikan dalam melihat peluang akan
peranan intelektual muda dalam membangun bangsa melalui pengembangan soft
skills dan juga penggemblengan secara organisasi. Daya tarik
IPNU-IPPNU yang unik dan khas harus tetap dimunculkan seperti kultur keagamaan
ala NU. Para pelajar yang terus mengalami proses belajar baik secara akademik
maupun organisatoris yang akan mampu membangun suatu mental sosial secara
memadai. Perjuangan segera dimulai. Bergandengan tangan untuk menunjukkan
kualitas dari kader muda NU. Hingga akhirnya dapat menjadikan IPNU-IPPNU
menjadi organisasi kepelajaran yang dapat menunjukkan kiprah riilnya dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Kita
tahu bahwa era modern atau bisa disebut era globalisasi merupakan sebuah era
dimana tempat bukan lagi penghambat atau penghalang kita untuk mendapat
informasi. Informasi bisa kita dapat dengan sangat mudah di era ini. Tapi,
tidak semua informasi itu bagus. Banyak sekali informasi yang seharusnya tidak diinformasikan,
contohnya video-video yang tidak layak untuk ditonton, dan masih banyak lagi.
Dan
dengan ikut organisasi yang berhaluan aswaja insya Allah bukan tidak mungkin
kita bisa menyaring, memilih, mengambil mana info yang baik dan tidak. Selain itu,
baru-baru ini banyak sekali aliran baru yang bermunculan yang membawa nama Islam
tapi berjiwa teroris. Mereka berjihad menggunakan bom. Kebanyakan mereka
merekrut pelajar. Dan peran IPNU dan IPPNU di sini adalah sebagai benteng agar
kita mempunyai fondasi ajaran ahlussunnah wal jama’ah yang kuat sehingga
kita tidak mudah terpengaruh oleh aliran aliran baru tersebut. Disamping itu, era
modern adalah era dimana tak ada jarak timur dan barat. Budaya timur khususnya
Indonesia dan barat banyak yang berbeda. Karena era modern ini, banyak sekali
orang orang meniru budaya mereka seperti individualisme, hedonistik, dan
semacamnya. IPNU dan IPPNU bisa mengatasi hal ini, dengan cara mengadakan rutinan,
bukan kata lo lo gua gua melainkan kita adalah satu karena kita IPNU dan IPPNU.
Sangat pas dan cocok apa yang dikatakan oleh Bung Karno, Hey Kau pemuda pemudi
Indonesia, Berapa Jumlahmu ? Jawablah : “Kami Hanya Satu”.
Oleh : A. M. Pandhu Atmojo
Disadur dari beberapa artikel terkait IPNU dan IPPNU dengan beberapa penambahan


0 komentar:
Posting Komentar