“Belajar,
Berjuang, dan Bertaqwa”. Itulah tiga kata yang disebut-sebut sebagai salam IPNU dan IPPNU. Tapi, apakah tiga kata
tersebut kering kerontang tak bermakna ?. jawabannya hanya pengurus dan
anggotanya sendiri yang mengerti.
Jujur
saja, bertahun-tahun lamanya saya melanglang buana di organisasi yang kental
dengan nuansa Islam Nusantara ‘ala manhaj nahdlatul ulama ini. Selama itu pula
saya melihat berbagai macam disintegrasi dan kekacauan mainstream yang ada
didalamnya, baik itu didalam IPNU dan IPPNU tingkat anak ranting sampai tingkat
cabang sekalipun.
Ketika
membaca biografi KH. Tolchah Mansoer -the founding father-nya IPNU, saya
seakan menyusuri salah satu lorong waktu tahun 1950-an dimana Ikatan
Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) sedang manapaki masa-masa perintisan yang
sulit. Saya yakin, beliau (KH. Tolchah Mansoer) mendirikan IPNU tidak kering
tanpa tujuan, tidak jauh dari sholat istiharah seperti yang diajarkan para
ulama terdahulu. Bahkan dalam tulisannya, beliau mengatakan “...haruslah
diinsjafi berdirinja organisasi Ikatan Peladjar Nahdlatul ‘Ulama’ bukan sekedar
tumbuh dan ditumbuhkan begitu sadja”.
Membaca
fakta sejarah tersebut, setidaknya ada beberapa hal penting yang perlu dicatat
tentang pendirian IPNU. Pertama, secara ideologis IPNU lahir sebagai respons
atas pertarungan ideologi. Para pendiri sadar betul akan perlunya wadah pelajar
dari kalangan Islam tradisional yang berpaham ahlussunnah wal jamaah. Kedua,
secara kelembagaan IPNU lahir sebagai wadah kaderisasi pelajar NU, Sehingga
seluruh sumberdaya dikerahkan untuk kerja kaderisasi. Ketiga, secara
intelektual, IPNU lahir untuk menyatukan dua potensi generasi terpelajar, yaitu
santri maupun pelajar umum. Dengan demikian, IPNU merupakan gerakan keilmuan.
Dan keempat, IPNU lahir bukan untuk bertengger di menara gading yang elitis,
melainkan membumi di tengah-tengah masyarakat dan terlibat dalam membangun
kemaslahatan publik. Nah, berangkat dari empat idealisme itulah saya ingin
mengajak kita semua merefleksikan IPNU pada masa kini.
Saat
masih menjadi pengurus Pimpinan Ranting Banyumudal 1, saya merasakan idealisme
itu masih kuat. Barangkali ini merupakan kondisi umum yang dialami
rekan-rekan kita di level bawah. Pengalaman saya menunjukkan bahwa ber-IPNU
berarti berikatan yang disatukan oleh semangat ideologis yang kuat. Inilah
mengapa hubungan sosial dan solidaritasnya sangat tinggi, sehingga membentuk
komunitas yang solid dan “fanatik" dengan ikatan aswajanya yang kuat itu.
Dulu,
dulu sekali, saya pernah mengeluarkan paket kebijakan mengenai IPNU sebagai
gerakan keilmuan dan intelektualitas. Paket kebijakan tersebut saya bingkai
dengan wadah rutinan setiap malam Rabu, satu minggu diadakan sekali ditempat
anggota IPNU yang bersedia “ketiban”. Didalam acara rutinan tersebut, saya dan
beberapa teman membawakan kitab Fathul Qorib untuk dibacakan dan kemudian
dikuliti satu persatu, mulai dari tata bahasa atau grammar-nya, maqosid, makna,
dan kemudian diserahkan kepada anggota yang masih janggal dan menemukan masyaqot.
Mungkin
karena anggota IPNU saya dulu didominasi oleh kaum sarungan, dan saya sendiri
dulu adalah alumnus pesantren, maka karakteristik yang dimunculkan dalam setiap
acara tidak jauh dari Islam tradisional. Namun, meskipun tradisional, Alhamdulillah
lewat kegiatan tersebut IPNU Banyumudal berhasil membukukan berbagai masalah
kontemporer yang dihasilkan dari rutinan tersebut (istilah sekarang; kumpulan hukum
fiqh) dan goal yang ingin dicapai yakni memunculkan insan IPNU yang berwawasan
luas dan mumpuni alhamdulillah dapat tercapai dengan indikator hadirnya buku
tersebut diatas.
Tapi,
kembali pada “Belajar, Berjuang, dan Bertaqwa” diatas, apa yang kita lihat ?. masihkah
ada makna dibalik tiga kata itu ? Jujur saja, saya melihat banyak anggota dan
pengurus IPNU dan IPPNU bengak bengok alias gowokan di medsos menyerang paham
Wahabi yang mengancam itu. Mereka gencar menyalahkan orang bagian dari membela diri sebagai anggota IPNU
dan IPPNU yang waras. Tapi, alangkah takjubnya saya, ketika ternyata mereka
yang bengak bengok tersebut tidak mengerti syarat dan rukun fatihah, syarat dan
rukun niat, syarat dan rukun mandi janabah, bahkan tentang Risalatul Mahidl yang
notabene membahas permasalahan perempuan, banyak yang tidak mengerti. Sekali lagi
banyak yang tidak mengerti. Dan fakta ini terjadi tidak hanya di ranah IPNU dan
IPPNU ranting saja, melainkan sudah merata sampai tingkat selanjutnya.
Dulu
IPNU dilahirkan untuk menyatukan dua potensi generasi terpelajar, yaitu santri
maupun pelajar umum, Dengan demikian IPNU tampil sebagai gerakan intelektual
pada dua ranah keilmuan, yaitu keilmuan agama dan keilmuan umum. Kini, spirit
gerakan intelektual itu semakin menjauh dari IPNU. Dulu, kita menyaksikan
forum-forum ilmiah dan karya-karya intelektual yang lahir dari IPNU. Sedangkan
kini, IPNU sepi dari berbagai dinamika intelektual itu. IPNU lebih suka tampil
sebagai gerakan politik atau kalau hanya menjadi ajang kongkow-kongkow yang tak
bermakna strategis. Fenomena ini sekarang benar-benar semakin nyata. Bahkan banyak
sekali oknum didalam IPNU yang cuman bisa teori tanpa praktek nyata. Masya Allah
….
Pak
Tolchah dkk mendirikan IPNU bukan untuk bertengger di menara gading dan
menjadikan para pengurus dan kadernya sebagai “manusia calon kasta elite” yang
dicanangkan sebagai lurah dan sebagainya. IPNU dilahirkan untuk membumi dalam
masyarakat, menjadi bagian dari dan mendampingi masyarakat bawah, serta
terlibat dalam berbagai penyelesaian masalah untuk membangun kemasalahan
publik. Kini, IPNU tampil persis seperti yang dikhawatirkan oleh Pak Tolchah,
yaitu menjadi ”kasta-kasta elite”, jauh dari masyarakat dan tidak terlibat
dalam pergumulan sosial dan penyelesaian berbagai persoalan nyata yang dihadapi
masyarakat. Bahkan perilaku para pengurusnya lebih suka tampil sebagai
kelas-kelas elite yang jauh dari masyarakat alit, namun gila citra. Ketiadaan
kerja advokasi dan pendampingan masyarakat -setidaknya masyarakat pelajar- oleh
IPNU pada beberapa dekade terakhir menunjukkan realitas ini.
Kini,
61 tahun sudah IPNU berdiri, jangan sampai ada orang mengatakan bahwa IPNU
belum bisa dikatakan berkhidmad untuk Indonesia.
Oleh : A. M. Pandhu Atmojo


0 komentar:
Posting Komentar