Sabtu, 07 November 2015

ARTIKEL ; Refleksi IPNU Masa Kini

ARTIKEL ; Refleksi IPNU Masa Kini
“Belajar, Berjuang, dan Bertaqwa”. Itulah tiga kata yang disebut-sebut sebagai  salam IPNU dan IPPNU. Tapi, apakah tiga kata tersebut kering kerontang tak bermakna ?. jawabannya hanya pengurus dan anggotanya sendiri yang mengerti.
Jujur saja, bertahun-tahun lamanya saya melanglang buana di organisasi yang kental dengan nuansa Islam Nusantara ‘ala manhaj nahdlatul ulama ini. Selama itu pula saya melihat berbagai macam disintegrasi dan kekacauan mainstream yang ada didalamnya, baik itu didalam IPNU dan IPPNU tingkat anak ranting sampai tingkat cabang sekalipun.
Ketika membaca biografi KH. Tolchah Mansoer -the founding father-nya IPNU, saya seakan menyusuri salah satu lorong waktu tahun 1950-an dimana Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) sedang manapaki masa-masa perintisan yang sulit. Saya yakin, beliau (KH. Tolchah Mansoer) mendirikan IPNU tidak kering tanpa tujuan, tidak jauh dari sholat istiharah seperti yang diajarkan para ulama terdahulu. Bahkan dalam tulisannya, beliau mengatakan “...haruslah diinsjafi berdirinja organisasi Ikatan Peladjar Nahdlatul ‘Ulama’ bukan sekedar tumbuh dan ditumbuhkan begitu sadja”.
Membaca fakta sejarah tersebut, setidaknya ada beberapa hal penting yang perlu dicatat tentang pendirian IPNU. Pertama, secara ideologis IPNU lahir sebagai respons atas pertarungan ideologi. Para pendiri sadar betul akan perlunya wadah pelajar dari kalangan Islam tradisional yang berpaham ahlussunnah wal jamaah. Kedua, secara kelembagaan IPNU lahir sebagai wadah kaderisasi pelajar NU, Sehingga seluruh sumberdaya dikerahkan untuk kerja kaderisasi. Ketiga, secara intelektual, IPNU lahir untuk menyatukan dua potensi generasi terpelajar, yaitu santri maupun pelajar umum. Dengan demikian, IPNU merupakan gerakan keilmuan. Dan keempat, IPNU lahir bukan untuk bertengger di menara gading yang elitis, melainkan membumi di tengah-tengah masyarakat dan terlibat dalam membangun kemaslahatan publik. Nah, berangkat dari empat idealisme itulah saya ingin mengajak kita semua merefleksikan IPNU pada masa kini.
Saat masih menjadi pengurus Pimpinan Ranting Banyumudal 1, saya merasakan idealisme itu masih kuat.  Barangkali ini merupakan kondisi umum yang dialami rekan-rekan kita di level bawah. Pengalaman saya menunjukkan bahwa ber-IPNU berarti berikatan yang disatukan oleh semangat ideologis yang kuat. Inilah mengapa hubungan sosial dan solidaritasnya sangat tinggi, sehingga membentuk komunitas yang solid dan “fanatik" dengan ikatan aswajanya yang kuat itu.
Dulu, dulu sekali, saya pernah mengeluarkan paket kebijakan mengenai IPNU sebagai gerakan keilmuan dan intelektualitas. Paket kebijakan tersebut saya bingkai dengan wadah rutinan setiap malam Rabu, satu minggu diadakan sekali ditempat anggota IPNU yang bersedia “ketiban”. Didalam acara rutinan tersebut, saya dan beberapa teman membawakan kitab Fathul Qorib untuk dibacakan dan kemudian dikuliti satu persatu, mulai dari tata bahasa atau grammar-nya, maqosid, makna, dan kemudian diserahkan kepada anggota yang masih janggal dan menemukan masyaqot.
Mungkin karena anggota IPNU saya dulu didominasi oleh kaum sarungan, dan saya sendiri dulu adalah alumnus pesantren, maka karakteristik yang dimunculkan dalam setiap acara tidak jauh dari Islam tradisional. Namun, meskipun tradisional, Alhamdulillah lewat kegiatan tersebut IPNU Banyumudal berhasil membukukan berbagai masalah kontemporer yang dihasilkan dari rutinan tersebut (istilah sekarang; kumpulan hukum fiqh) dan goal yang ingin dicapai yakni memunculkan insan IPNU yang berwawasan luas dan mumpuni alhamdulillah dapat tercapai dengan indikator hadirnya buku tersebut diatas.
Tapi, kembali pada “Belajar, Berjuang, dan Bertaqwa” diatas, apa yang kita lihat ?. masihkah ada makna dibalik tiga kata itu ? Jujur saja, saya melihat banyak anggota dan pengurus IPNU dan IPPNU bengak bengok alias gowokan di medsos menyerang paham Wahabi yang mengancam itu. Mereka gencar menyalahkan orang  bagian dari membela diri sebagai anggota IPNU dan IPPNU yang waras. Tapi, alangkah takjubnya saya, ketika ternyata mereka yang bengak bengok tersebut tidak mengerti syarat dan rukun fatihah, syarat dan rukun niat, syarat dan rukun mandi janabah, bahkan tentang Risalatul Mahidl yang notabene membahas permasalahan perempuan, banyak yang tidak mengerti. Sekali lagi banyak yang tidak mengerti. Dan fakta ini terjadi tidak hanya di ranah IPNU dan IPPNU ranting saja, melainkan sudah merata sampai tingkat selanjutnya.
Dulu IPNU dilahirkan untuk menyatukan dua potensi generasi terpelajar, yaitu santri maupun pelajar umum, Dengan demikian IPNU tampil sebagai gerakan intelektual pada dua ranah keilmuan, yaitu keilmuan agama dan keilmuan umum. Kini, spirit gerakan intelektual itu semakin menjauh dari IPNU. Dulu, kita menyaksikan forum-forum ilmiah dan karya-karya intelektual yang lahir dari IPNU. Sedangkan kini, IPNU sepi dari berbagai dinamika intelektual itu. IPNU lebih suka tampil sebagai gerakan politik atau kalau hanya menjadi ajang kongkow-kongkow yang tak bermakna strategis. Fenomena ini sekarang benar-benar semakin nyata. Bahkan banyak sekali oknum didalam IPNU yang cuman bisa teori tanpa praktek nyata. Masya Allah ….
Pak Tolchah dkk mendirikan IPNU bukan untuk bertengger di menara gading dan menjadikan para pengurus dan kadernya sebagai “manusia calon kasta elite” yang dicanangkan sebagai lurah dan sebagainya. IPNU dilahirkan untuk membumi dalam masyarakat, menjadi bagian dari dan mendampingi masyarakat bawah, serta terlibat dalam berbagai penyelesaian masalah untuk membangun kemasalahan publik. Kini, IPNU tampil persis seperti yang dikhawatirkan oleh Pak Tolchah, yaitu menjadi ”kasta-kasta elite”, jauh dari masyarakat dan tidak terlibat dalam pergumulan sosial dan penyelesaian berbagai persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Bahkan perilaku para pengurusnya lebih suka tampil sebagai kelas-kelas elite yang jauh dari masyarakat alit, namun gila citra. Ketiadaan kerja advokasi dan pendampingan masyarakat -setidaknya masyarakat pelajar- oleh IPNU pada beberapa dekade terakhir menunjukkan realitas ini. 
Kini, 61 tahun sudah IPNU berdiri, jangan sampai ada orang mengatakan bahwa IPNU belum bisa dikatakan berkhidmad untuk Indonesia.

 Oleh : A. M. Pandhu Atmojo

0 komentar:

Posting Komentar