Tahun
ini Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama genap berusia 61 tahun. Sebuah kenyataan
yang memunculkan kebanggaan sekaligus tantangan. Di satu sisi, dengan
eksistensi IPNU sampai hari ini menunjukan bahwa IPNU telah menjadi organisasi
pelajar yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Artinya, IPNU dalam
waktu yang lama telah ikut mewarnai dinamika dunia kepelajaran di Indonesia.
Apalagi jika mengingat dinamika politik dan sosial di Indonesia yang sering
berubah-ubah, maka keberadaan IPNU hingga hari ini adalah sebuah berkah yang
layak disyukuri.
Namun,
keberadaan IPNU saat juga memunculkan sebuah pertanyaan. Sudahkah keberadaan
IPNU memberikan manfaat sebagaimana yang diharapkan? Apabila melihat sejarah
perjalanan IPNU, sekurang-kurangnya ada 3 hal yang menjadi tujuan IPNU.
Pertama, IPNU merupakan tempat kaderisasi utama pelajar NU. Kedua, IPNU menjadi
wadah aspirasi utama bagi pengembangan potensi pelajar NU. Terakhir, IPNU
menjadi pemegang mandat paling sah dalam membawa nama NU dalam dinamika gerakan
pelajar di Indonesia. Dalam skala yang lebih luas, IPNU bertujuan menyiapkan
generasi muda Indonesia agar mampu menghadapi berbagai tantangan di masa depan.
Seiring
berubahnya waktu, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama sebagai organisasi pelajar
terus mengalami tantangan. Ada beberapa hal utama saat membicarakan
tantangan IPNU saat ini. Terkait dengan kaderisasi, keberadaan IPNU saat ini
belum dapat menjalankan fungsi pengkaderan secara maksimal. Pelajar dan santri
sebagai ladang kaderisasi utama belum tergarap efektif sementara di sisi lain
formulasi pengkaderan yang ada belum mampu menghasilkan kader unggul. Indikasi
yang sederhana, proses pemilihan kepengurusan di level NU sendiri belum
menjadikan keaktifan di IPNU sebuah pertimbangan. Dengan kata lain, dalam level
NU saja kaderisasi di IPNU masih belum diakui sepenuhnya.
Tantangan
selanjutnya, ruang mobilitas kader IPNU masih berkutat pada sektor-sektor yang
terbatas. Padahal perkembangan zaman menuntut kemampuan manusia-manusia yang
cerdas intelektual dan memiliki skill yang mempuni di berbagai bidang. IPNU
belum menunjukan peranannya secara memadai dalam hal pembentukan kualitas
kader yang mempuni. Dalam hal olahraga, seni dan sains terlihat sekali IPNU
belum menunjukan peran yang maksimal. Hal ini perlu menjadi perhatian yang
serius agar IPNU mampu menunjukan kiprahnya di segala bidang.
Di
sisi lain, sumber daya IPNU juga terancam dengan fenomena politik praktis yang
kerap menarik kader IPNU untuk berkiprah didalamnya. Politik praktis bukanlah
sesuatu yang pasti jelek akan tetapi melibatkan organisasi pelajar dalam
politik berpotensi menimbulkan banyak kerugian. Organisasi akan dibawa-bawa
untuk kepentingan pribadi dan golongan. Sementara friksi-friksi yang kerap
terjadi secara terang-terangan dalam dunia politik juga dapat menjalar ke
organisasi. Oleh karenanya menjaga jarak dengan politik praktis merupakan pilihan
yang paling bijak. Jangan sampai IPNU dibawa untuk kepentingan pribadi atau
partai tertentu. Bukankah lebih baik fokus kepada kerja-kerja utama seperti
pengkaderan dan pendididan
Hari
ini banyak kader IPNU terjebak pada dinamika politik, mulai dari tingkat lokal
hingga nasional. Ini sangat bertolak belakang dengan misi awal berdirinya IPNU,
yaitu pemberdayaan serta peningkatkan kapasitas intelektual pelajar dan santri.
Secara langsung ataupun tidak tentu hal ini akan berpengeruh terhadap
roda dan kinerja organisasi.
Upaya
Meningkatkan Peran
Sebagai
organisasi pelajar, sebenarnya peluang untuk berkontribusi bagi dunia
kepalajaran dan pendidikan sangatlah terbuka. Jamak diketahui, kondisi pelajar
di Indonesia menggambarkan kondisi yang cukup memprihatinkan. Adanya tawuran
yang kerap terjadi di berbagai berulang-ulang, seks bebas, tingginya angka
narkoba dikalangan pelajar serta ancaman radikalisme pelajar adalah beberapa
problem serius yang kini mewarnai dunia pelajar di Indonesia.
Dalam
kontek itu, IPNU seharusnya mulai memikirkan kembali bagaimana fungsi dan
peranannya. IPNU perlu mempertegas kembali kerja-kerja organisasi dalam
memperbaiki problem-problem pelajar diatas. Semestinya hal ini hal tersebut
dilaksanakan dalam dua arus besar sekaligus. Pertama, IPNU bertanggung jawab
penuh agar kader-kader IPNU memiliki kapasitas unggul dan terhindar dari
perilaku menyimpang yang marak terjadi di dunia pelajar. Maka dalam setiap
momentum kaderisai IPNU baik formal ataupun informal harus memberikan wawasan tersebut.
Kedua,
IPNU harus menjadi pendorong dan pelopor utama dalam mewujudkan pelajar
di Indonesia yang berkualitas. Seluruh jaringan dan elemen IPNU harus berperan
dalam upaya-paya produktif dalam memajukan pelajar Indonesia yang unggul. Upaya
ini dilakukan dengan mendorong sistem pendidikan yang berkualitas di satu sisi
dan disisi lain mendorong pencegahan hal-hal yang dapat merusak pelajar seperti
seks bebas, narkoba dan tawuran pelajar.
Dengan
kerja-kerja tersebut, peran dan fungsi IPNU dapat dilihat langsung dalam kontek
dunia kepelajaran. Untuk mewujudkan hal tersebut, tentu diperlukan komitmen,
kekompakan dan kepedulian segenap elemen IPNU. Harapannya, usia yang
semakin menua tidak menunjukan kerapuhan akan tetapi justru memunculkan kematangan
dalam menunjukan peran dan kontribusi bagi generasi muda Indonesia yang lebih
baik. Semoga.
Oleh:
Badri Wahyu Nadhor*
*Sekretaris
Umum PW IPNU DI Yogyakarta


0 komentar:
Posting Komentar