Jika kita kembali mengingat peristiwa pada 87 tahun
silam, para founding father negara kita mempertaruhkan nyawanya untuk
memerdekakan bangsa Indonesia dari penindasan dan penjajahan. Salah satu
momentum penting yang tidak akan pernah terlupakan adalah persatuan pemuda pada
28 Oktober 1928, sehingga peristiwa tersebut sampai hari ini kita kenal dengan
hari Sumpah Pemuda. Seiring waktu pada tanggal 10
November 1945, merupakan puncak perlawanan terhadap penjajah, di mana tentara
kita berani mengusir penjajah, mengangkat tinggi panji negara, Sang Saka Merah
putih.
Tak pernah lekang dalam ingatan kita perjuangan
para pemuda Indonesia di Surabaya pada hari itu. Lantas pada hari ini 10
Nopember 2015, apa balasan kita terhadap para leluhur kita yang dengan penuh
kesadaran dan keberanian berkorban untuk generasi mudanya. Berpangku tangan
bukanlah menjadi solusi untuk memajukan bangsa kita. Hanya mengenang sejarah
perjalanan mereka bukanlah sesuatu yang bijak untuk kita angankan. Ingat bahwa
presiden pertama kita Soekarno pernah menyatakan “Beri aku sepuluh pemuda, maka
akan ku guncang dunia”. Artinya, harapan untuk memerdekakan dan memajukan
bangsa ini terletak pada kemampuan, pengetahuan, moralitas dan ketangguhan
pemudanya, bahwa pemuda dengan segenap usahanya mampu memberi nilai lebih dari
sekedar membanggakan kenangan yang diukir oleh para pendahulunya, yakni dengan
terus mengasah wawasan dan pengetahuan tentang perkembangan teknologi dan
informasi, keterampilan, dan juga melestarikan budaya yang mengakar di negeri
ini.
Dewasa ini kita dihadapkan dengan fenomena dimana
kecenderungan moral pemuda dan pelajar kita menurun. Identitas yang semakin
mendarah daging dalam diri mereka adalah identitas bangsa lain. Faktanya, bahwa
pemuda kita lebih cenderung bersikap anarkis, bahkan apatis terhadap lingkungan
sekitarnya. Jarang sekali kita melihat pemuda, nimbrung dalam kegiatan-kegiatan
yang bersifat kebudayaan atau kedaerahan, kecuali bila mereka “dicambuk” untuk
mengikuti kegiatan tersebut. Tidak ada kesadaran bahwa yang membentuk diri
mereka adalah kebudayaan di mana ia dilahirkan, etika dan moral yang oleh para
leluhur mereka ajarkan.
Momentum berbenah
Fakta yang telah disampaikan di atas, merupakan isu
penting yang harus dibenahi oleh segenap individu di negara ini. Pendekatan
terhadap pemuda, sebaiknya dilakukan oleh unsur dari sesamanya, yakni kalangan
pemuda. Mereka harus membaur satu sama lain, untuk satu tujuan, mengembalikan
keagungan identitas bangsa kita dengan menjunjung tinggi budaya kita sendiri,
melestarikan dan memegang teguh moralitas dan etika yang lahir dari budaya
tersebut.
Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), sebagai
organisasi kepemudaan yang berorientasi pada pemuda, khususnya pelajar dan
santri, sebaiknya benar-benar mengkaji fenomena ini. Organisasi ini seharusnya
lebih dari sekedar organisasi kader yang sekedar terpacu untuk memperbanyak
kuantitas kader binaannya. IPNU bisa saja memilih untuk menumbuhkan kuantitas
kader untuk menunjang jalan organisasi ini, di mana hal ini bisa dilakukan
dengan mengadakan pelatihan kaderisasi, apalagi IPNU sendiri memiliki basis di
sekolah-sekolah Ma’arif, MA, SMA, dan SMK maupun pondok pesantren. Akan tetapi,
kaderisasi sebaiknya dilakukan lebih dari itu. Bukan sekedar kuantitas yang diperhatikan,
tapi juga kualitas dan kapabilitas kader tersebut harus diutamakan, baik dari
segi pendidikan, wawasan, sosial-budaya dan pengetahuan atas teknologi dan
informatika. Sehingga kader tersebut mampu bersaing dikancah nasional maupun
internasional.
Dalam hitungan minggu ke depan, IPNU akan menggelar
Kongres ke XVII. Hal ini tentu sangat berarti, di mana pemimpin baru akan
dipilih, tentu dengan harapan, ia mampu membawa IPNU menjadi lebih hebat.
Setidaknya, beberapa hal yang perlu digarisbawahi untuk memenjadikan organisasi
tersebut lebih hebat; pertama, sistem kaderisasi harus dikaji ulang, melihat
pentingnya pengembangan kapasitas kader; kedua, IPNU harus membuat konsep
“Pemuda Terdidik Berbudaya” untuk meneguhkan identitas budaya dan bangsa; ketiga,
IPNU harus berorientasi pada kegiatan praksis dan kontinyu, supaya menumbuhkan
kader yang berjiwa sosial.
Akhirnya, semangat Hari Pahlawan bukan sekedar
berpangku tangan untuk memajukan bangsa kita. Hanya mengenang sejarah
perjalanan mereka bukanlah sesuatu yang bijak untuk kita angankan. Maka
belajarlah tanpa henti, berjuanglah tanpa menorah dan bersandarlah dengan
taqwa. Salam Belajar, Berjuang dan Bertaqwa.
Oleh: M. Nahdhy Fasikhin
Kader IPNU Daerah Istimewa Yogyakarta dan Sekjend
Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Periode 2012-2015


0 komentar:
Posting Komentar