Selasa, 24 November 2015

ARTIKEL ; Pelurusan Nasab Pendiri NU, Chadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy'ari Al-Huseini

ARTIKEL ; Pelurusan Nasab Pendiri NU, Chadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy'ari Al-Huseini
Mencermati Muktamar NU ke-33 di Jombang kemarin, rupanya ada satu hal yang mengusik hati kami, terutama tentang ditampilkannya nasab Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari pendiri NU dengan KH. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah.
Tadinya kami berfikir mungkin saja ini sebuah uphoria sesaat karena adanya Muktamar. Namun, karena kami melihat bahwa ini adalah urusannya dengan nasab tokoh besar umat Islam Nusantara. Dimana untuk masalah yang satu ini cukup "sensitif" bagi beberapa kalangan, terutama yang berkecimpung dalam dunia ilmu nasab. Maka akhirnya kami pun dirasa perlu turut berkomentar terhadap hal yang satu ini. Apalagi setahu kami kedua-duanya memang bernasabkan kepada keluarga besar Wali Songo.
Yang juga membuat kami tertarik dan jadi ingin menimpali, karena di situ banyak ditemukan generasi-generasi yang "hilang" atau tidak tertulis. Sehingga terkesan terlalu pendek generasinya, terutama nasab Hadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy'ari. Bagi yang berkecimpung dalam ilmu nasab tentu akan bertanya-tanya tentang "pendeknya" nasab pendiri NU itu. Dan repotnya banyak juga yang percaya dengan nasab versi "pendek" tersebut.
Mengenai nasab keduanya, pada intinya beliau-beliau ini memang Sayyid atau Habib atau Keturunan Rasulullah Saw. Hanya saja, terkadang dalam penulisan nasab beberapa orang sering "salah kamar" dalam penyusunan atau penisbatan nama mereka.
Contoh misalnya, nasab KH. Ahmad Dahlan dalam versi film Sang Pencerah. Beliau ditulis dan disebutkan keturunan langsung Maulana Malik Ibrahim Azmatkhan, sesuatu yang sangat mengejutkan kami. Padahal jelas-jelas di keluarga besar KH. Ahmad Dahlan, nasab beliau yang tertera adalah berasal dari Sunan Giri Azmatkhan.
Memang, antara Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Giri itu satu nasab, namun untuk KH. Ahmad Dahlan nasab langsungnya jelas dari Sunan Giri bin Maulana Ishak bin Maulana Ibrahim Zaenuddin al-Akbar as-Samarqandi bin Husein Jamaluddin bin Sultan Ahmad Syah Jalaluddin bin al-Amir Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan. Sedangkan Maulana Malik Ibrahim bin Sultan Barakat Zaenal Alam bin Husein Jamaluddin bin Sultan Ahmad Syah Jalaluddin bin Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan.
Untuk masalah KH. Ahmad Dahlan sepertinya memang sudah mashyur berasal dari Sunan Giri. Jelas Maulana Malik Ibrahim hitungannya adalah kakek bagi Sunan Giri. Karena Maulana Ibrahim Zaenuddin al-Akbar as-Samarqandi dan Sultan Barakat Zaenal Alam adalah adik-kakak. Memang terkadang antara Maulana Ibrahim Zaenuddin al-Akbar as-Samarqandi dan Maulana Malik Ibrahim sering disamakan pada satu orang karena sama-sama pakai nama Maulana dan Ibrahim. Padahal mereka adalah sosok yang berbeda, yang satu makamnya di Tuban yang satunya lagi di Gresik.
Bagaimana dengan Hadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy'ari? Nah ini yang menurut kami sangat menarik.
Beberapa tahun yang lalu dalam sebuah blog tertentu, kami pernah melihat perdebatan yang cukup panas antara yang mempercayai kalau Gus Dur adalah Sayyid dan juga yang kontra terhadap nasab beliau. Masalahnya yang kami lihat pada waktu itu, banyak yang kontra terhadap nasab Gus Dur karena dilatarbelakangi sikap beliau yang sering dianggap "kontroversial" dalam kaca mata beberapa orang. Padahal kalau kita bicara nasab, ya kita harus jujur dan tegas, apakah dia Sayyid atau tidak, atau apakah dia sudah menjadi pribumi karena akulturasi, ya tetap harus dijelaskan. Jika memang data nasabnya tercatat, terpelihara dan bersanad, mereka tetap merupakan Dzurriyahnya Rasulullah Saw.
Dalam beberapa sumber yang kami ketahui, dipercaya bahwa leluhurnya Mbah Hasyim ini adalah berasal dari Klan Basyaiban. Padahal setelah kami teliti dalam catatan Sayyid Bahruddin Azmatkhan, beliau berasal dari Klan Azmatkhan, terutama leluhurnya yang bernama Jaka Tingkir. Jaka Tingkir jelas bukan bernasabkan kepada Basyaiban, namun beberapa keturunannya memang banyak yang menikah dengan keluarga Basyaiban. Dalam ilmu nasab dinamakan tautan nasab. Artinya Basyaiban adalah kekerabatan. Hal ini wajar mengingat Basyaiban adalah salah satu fam yang tua yang masuk ke Nusantara setelah terlebih dahulu masuknya Azmatkhan yang diwakili oleh keluarga Wali Songo mulai dari Sayyid Husein Jamaluddin sampai kepada masa berdirinya Majelis Dakwah Walisongo. Perlu diketahui bahwa keluarga besar Basyaiban itu baru datang pada abad ke 16 sedangkan keluarga Jaka Tingkir sendiri sudah berada di Jawa sejak abad ke 13.
Jelaslah jika dinisbatkan langsung kepada fam Basyaiban tidak tepat, namun kalau kekerabatan nasab memang ada. Leluhur Basyaiban sendiri yang pertama kali datang ke Jawa adalah Sayyid Abdurrahman Tajuddin (Sunan Pangkunegoro) bin Umar bin Abdullah bin Abdurrahman bin Umar bin Muhammad bin Ahmad bin Abubakar Basyaiban. Sayyid Abdurrahman Tajuddin ini kemudian mendapatkan istri dari cucunya Sunan Gunung Jati. Ada juga yang menulis anak Sunan Gunung Jati yang bernama Ratu Khadijah. Sedangkan Jaka Tingkir mendapatkan istri anak Sultan Trenggono bin Raden Fattah.
Dari generasi saja mereka sudah berbeda, dari tahun sudah berbeda, dari istri sudah berbeda. Jaka Tingkir lebih banyak di Jawa Tengah dan Jawa Timur (Kesultanan Pajang) sedangan Sayyid Abdurrahman Tajuddin lebih banyak di Cirebon karena telah menjadi bagian keluarga besar Sunan Gunung Jati Azmatkhan.
Jaka Tingkir dalam riwayat mashyur bukanlah anak dari Sunan Giri. Siapapun sejarawan akan mengetahui bahwa ayah dari Jaka Tingkir ini adalah Ki Ageng Pengging yang merupakan tokoh sufi besar pada masanya. Dalam catatan Sayyid Bahruddin Azmatkhan, anak-anak Sunan Giri pun tidak ada yang bernama Jaka Tingkir. Jadi jelas Jaka Tingkir nasabnya bukan ke Sunan Giri. Kalaupun nanti dihubungkan dengan Sunan Giri, itu mungkin tautan pernikahan dengan keturunan Sunan Giri yang selanjutnya.
Pada intinya Jaka Tingkir memang seorang Sayyid tulen atau Alawiyyin Sejati. Beliau bernama asli Sayyid Abdurrahman Azmatkhan. Leluhur utamanya adalah Sayyid Husein Jamaluddin bin Sultan Ahmad Syah Jalaluddin bin al-Amir Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan bin Alwi Ammul Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath.
Kami sengaja tidak menampilkan dulu nasab Jaka Tingkir bin Ki Ageng Pengging sampai kepada Sayyid Husein Jamaluddin karena menunggu dulu izin dari guru kami yang memegang sanad nasab beliau ini. Namun untuk memastikan nasab Jaka Tingkir ini, sangat jelas dan tegas, kami katakan bahwa Jaka Tingkir adalah keturunan Rasulullah Saw. dari jalur Sayyid Husein Jamaluddin bin Sultan Ahmad Syah Jalaluddin bin al-Amir Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan. Artinya Jaka Tingkir adalah seorang keturunan al-Imam al-Muhajir al-Bashri al-Husaini. Dari nasabnya Jaka Tingkir kelak akan lahir ulama-ulama besar seperti KH. Sahal Mahfudz, KH. Hasyim Asy'ari, Syaikh Mutamakkin dan ratusan ulama besar lainnya yang banyak berada di Jawa ini.
Kami juga ingin menegaskan, bahwa nasabnya Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari itu berada pada urutan ke 36 dari Rasulullah Saw. Sedangkan Gus Dur di urutan ke 38. Jadi kalau selama ini ada nasab yang beredar di internet yang menyebutkan Gus Dur generasi ke 34, itu adalah generasi yang sangat pendek untuk keturunan Rasulullah Saw. khususnya pada keluarga besar Azmatkhan.
Rata-rata keturunan Azmatkhan seperti Mbah Hasyim Asy'ari ini berada di generasi 36 dan Gus Dur generasi ke 38. Dan ini juga sesuai dengan perjalanan nasab keluarga besar Alawiyyin lain yang sekarang berada urutan 38-40 atau 40-42. Angka generasi tersebut adalah normal, namun kalau angka 34 jelas itu ada nama yang hilang dan tidak tercatat.
Untuk kasus Mbah Hasyim Asy'ari sebenarnya secara bersanad sudah lama terdata dan tersimpan dengan baik oleh keluarga besar Sayyid Bahruddin Azmatkhan. Hanya saja memang tidak dipubilkasikan, mengingat untuk urusan nasab memang harus langsung dengan keluarga besar sang ulama tersebut. Nasab jelas tidak bisa diobral, apalagi Mbah Hasyim Asy'ari memang sangat hati-hati dalam masalah nasab. Memang level Mbah Hasyim ini bukan lagi membicarakan nasab, namun bagaimanana menjadikan nasab itu sebagai uswah bagi ummat tanpa perlu harus diumumkan.
Mungkin ada yang bertanya, kenapa Sayyid Bahruddin bisa menyimpan nasabnya Mbah Hasyim Asy'ari? Ya tidak anehlah, sebab Sayyid Bahruddin satu perguruan dengan Mbah Hasyim Asy'ari karena sama-sama pernah menjadi murid Syaikhona Kholil Bangkalan. Dan Sayyid Bahruddin sekaligus juga pernah berguru langsung kepada Mbah Hasyim Asy'ari. Sayyid Bahruddin juga satu angkatan dengan KHR. As'ad Syamsul Arifin. Sayyid Bahruddin lahir tahun 1899 dan wafat tahun 1992.
Di kalangan Kyai Khos dulu, Sayyid Bahruddin memang dikenal baik. Namun secara umum beliau jarang muncul, karena memang wataknya seperti itu. Sayyid Bahruddin secara nasab satu alur dengan Mbah Kholil Bangkalan, mereka sepupuan sekalipun beda usia. Hubungan antara Sayyid Bahruddin dan Mbah Hasyim sendiri cukup baik, sehingga tidaklah heran jika sanad keilmuannya Mbah Hasyim banyak dipegang oleh Sayyid Bahruddin ini.
Jadi kalau banyak data nasab Mbah Hasyim ada di Sayyid Bahruddin itu adalah hal yang wajar. Apalagi Sayyid Bahruddin sudan mendata semua nasab sejak tahun 1918 Masehi melanjutkan sanad ilmu nasab dari ayahnya, Sayyid Abdul Rozaq. Demikianlah pelurusan nasab Mbah Hasyim Asy'ari Azmatkhan al-Husaini.

Sumber refferensi; 1) Asy-Syaikh as-Sayyid al-'Allamah Bahruddin Azmatkhan al-Husaini al-Hafidz dalam karyanya "al-Mausu'ah li Ansab al-Imam al-Husaini", Jakarta: Madawis, 2015. 2) Iwan Mahmud al-Fattah dalam karyanya "Diagram Nasab Keluarga Besar Azmatkhan al-Husaini", Jakarta: Madawis & Ikrafa, 2014.

0 komentar:

Posting Komentar