Allah itu Maha Bid'ah (badi'us samaawaati wal
ardl). Manusia diciptakan diantaranya untuk banyak mereproduksi bid'ah, yaitu
pemikiran-pemikiran baru, penemuan-penemuan baru dengan instrumen pengetahuan
dan riset. Hal itu diperlukan sebagai tanggung jawab ideologis manusia atas
Tuhan, yaitu khalifah fi al-ard.
Islam sebagai agama yang ditutunkan Allah tidak
hanya mengajarkan tentang ubudiyah, tetapi juga muamalah. Kesalehan tidak hanya
diukur secara personal, namun juga sosial. Kesalehan sosial, menuntut manusia
untuk menciptakan produk pemikiran, penemuan, dan berbagai bid'ah yang bisa
menjawab problematika keummatan.
Pertanyaannya kemudian, mengapa kejayaan
intelektual, saintis dan filosofis abad pertengahan kini seakan hilang tak
terwariskan? Inilah pertanyaan sulit yang sampai kini seakan tak terpecahkan.
Ayat-ayat dihafal, namun seakan kehilangan konteks
dan relevansinya dalam menjawab realitas zaman. Padahal, hampir semua umat
Islam hafal dan selalu berdoa: "Rabbana aatina fid dunya hasanah, wa fi
al-aakhirati chasanah wa qiena 'adzabannar". Namun, pemaknaan dan
improvisasi ayat tersebut seakan langsung dipotong kepada "fi al-aakhirati
hasanah", dengan melewati "fiddunya hasanah".
Umat Islam Nusantara juga punya jargon:
"al-muhafaadlatu ala al-qaadimi as-shaalih wa al-akhdlu bi al-jadid
al-ashlah", melestarikan nilai lama yang baik dan mengambil nilai baru
yang lebih baik lagi". Namun demikian, melestarikan nilai lama yang baik
yang masih mendominasi, belum banyak bengambil nilai-nilai baru, apalagi
memunculkan dan menggagas nilai dan penemuan baru.
Pasca-runtuhnya "negara-negara Islam" di
Timur Tengah karena perang saudara, seyogyanya Indonesia menjadi pusat
pengembangan pengetahuan muslim dunia. Hal ini bisa dicapai dengan meninggalkan
problem khilafiyah-receh yang selama ini melekat dalam wacana dan menjadi arus-utama
dinamika umat Islam Indonesia.
Produktivitas Islam pada masa Khalifah Umar bin
Khattab yang banyak memberi solusi dan meciptakan bid’ah bermanfaat harus
dikembalikan dengan kekuatan semangat membangun pengetahuan. Di masa Bani
Abbasiyah, semangat juga dimiliki oleh seorang Khalifah bernama Al-Rasyid
dengan membuat Baitul Hikmah yaitu Rumah Pustaka dan mengantarkan pada masa
keemasan Islam (the golden of Islam) pada masa Al-Makmun. Para cendikiawan dan
inetelektual muslim yang menterjemahkan tulisan-tulisan filsuf Yunani, Romawi
kedalam bahasa arab mendapat penghargaan yang sangat tinggi dari Al-Makmun.
Mendirikan Perpustakaan Besar
Salah satu kekuatan Islam terbesar dunia, Nahdlatul
Ulama sebenarnya mulai bergerak ke arah itu: kemajuan teknologi dan sains. Hal
ini ditandai dengan gencarnya pembangunan universitas dan sekolah dilingkungan
NU. Namun demikian, pergerakan itu masih relatif lambat, jika dilihat dari
fakultas atau prodi yang yang dibuka masih banyak berkutat soal agama dalam
arti yang sempit. NU perlu menggagas jurusan-jurusan ilmu eksak yang ke depan
diharapkan mampu menjawab realitas dan problematika keummatan.
Selain itu, akan sangat menarik dan mengagumkan,
jika NU memilki perpustakaan besar yang menyajikan pelbagai referensi
pengetahuan secara komprehensif. Organisasi sebesar NU, sepertinya sudah
saatnya memiliki itu, sebagai upaya membangun “Baitul Hikmah” yang baru.
Pengadaan dan penerjemahan buku dari yang lokal sampai dunia, klasik sampai
kontemporer, islam sampai pelbagai agama, khususnya ilmu-ilmu eksakta yang akan
banyak membantu penelitian dan pengembangan intelektual.
Perpustakaan besar itu akan menjadi “Baitul Hikmah”
ala Al-Rasyid di Indonesia yang mendewasakan pengetahuan, menghasilkan berbagai
penemuan dan rujukan referensi-referensi yang bisa diakses siapa saja. Seperti
kita tahu, perkembangan dunia Islam mengalami perkembangan yang sangat pesat
ketika abad pertengahan dengan ilmu pengetahuan. Baitul Hikmah telah mendorong
perubahan yang sangat luar biasa di dunia Islam, seperti Ilmu Mantik,
kedokteran, Fisika, ilmu sosial-humaniora dll.
Dengan pengupayaan perpustakaan itu, usaha untuk
mengembalikan kejayaan Islam abad pertengahan ke masa sekarang, atau menjadikan
Islam Nusantara sebagai rujukan Islam dunia, setapak-demi setapak kemudian akan
menemukan momentumnya. Ini bukanlah wacana yang muluk-muluk, mengingat
kepustakaan yang dimiliki berbagai lembaga pendidikan formal baik dilingkungan
NU maupun pesantren masih sangat minim. Setidaknya, ada perpustakaan besar yang
mampu menjadi pusat pengetahuan warga Nahndliyyin khususnya, masyarakat pada
umumnya dan bahkan dunia.
Dengan nahkoda Ketua Umum hasil Muktamar ke-33 di
Jombang KH Said Aqil Siroj, yang berjanji akan fokus pada visi pengembangan
kualitas umat, pengembanngunan ekonomi dan tidak akan ikut-campur dalam urusan
politik praktis, sepertinya wacana pembangunan perpustakaan besar bukanlah hal
yang muluk-muluk. Semoga, mimpi itu kelak akan terwujud, syukur-syukur sudah
berdiri megah ketika NU memasuki satu abad: tahun 2026. Jika itu terwujud,
tentu akan menjadi sejarah dan kado terindah.
Oleh: Ahmad Naufa Kh. F.
*Ahmad Naufa Khoirul Faizun, Santri Pondok Pesantren
An-Nawawi Berjan Purworejo, Wakil Ketua PW IPNU Jawa Tengah.


0 komentar:
Posting Komentar