Mencermati
Muktamar NU ke-33 di Jombang kemarin, rupanya ada satu hal yang mengusik hati
kami, terutama tentang ditampilkannya nasab Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari
pendiri NU dengan KH. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah.
Tadinya
kami berfikir mungkin saja ini sebuah uphoria sesaat karena adanya Muktamar.
Namun, karena kami melihat bahwa ini adalah urusannya dengan nasab tokoh besar
umat Islam Nusantara. Dimana untuk masalah yang satu ini cukup
"sensitif" bagi beberapa kalangan, terutama yang berkecimpung dalam
dunia ilmu nasab. Maka akhirnya kami pun dirasa perlu turut berkomentar terhadap
hal yang satu ini. Apalagi setahu kami kedua-duanya memang bernasabkan kepada
keluarga besar Wali Songo.
Yang
juga membuat kami tertarik dan jadi ingin menimpali, karena di situ banyak
ditemukan generasi-generasi yang "hilang" atau tidak tertulis.
Sehingga terkesan terlalu pendek generasinya, terutama nasab Hadhratus Syaikh
KH. M. Hasyim Asy'ari. Bagi yang berkecimpung dalam ilmu nasab tentu akan
bertanya-tanya tentang "pendeknya" nasab pendiri NU itu. Dan repotnya
banyak juga yang percaya dengan nasab versi "pendek" tersebut.
Mengenai
nasab keduanya, pada intinya beliau-beliau ini memang Sayyid atau Habib atau
Keturunan Rasulullah Saw. Hanya saja, terkadang dalam penulisan nasab beberapa
orang sering "salah kamar" dalam penyusunan atau penisbatan nama
mereka.
Contoh
misalnya, nasab KH. Ahmad Dahlan dalam versi film Sang Pencerah. Beliau ditulis
dan disebutkan keturunan langsung Maulana Malik Ibrahim Azmatkhan, sesuatu yang
sangat mengejutkan kami. Padahal jelas-jelas di keluarga besar KH. Ahmad
Dahlan, nasab beliau yang tertera adalah berasal dari Sunan Giri Azmatkhan.
Memang,
antara Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Giri itu satu nasab, namun untuk KH.
Ahmad Dahlan nasab langsungnya jelas dari Sunan Giri bin Maulana Ishak bin
Maulana Ibrahim Zaenuddin al-Akbar as-Samarqandi bin Husein Jamaluddin bin
Sultan Ahmad Syah Jalaluddin bin al-Amir Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan.
Sedangkan Maulana Malik Ibrahim bin Sultan Barakat Zaenal Alam bin Husein
Jamaluddin bin Sultan Ahmad Syah Jalaluddin bin Abdullah bin Abdul Malik
Azmatkhan.
Untuk
masalah KH. Ahmad Dahlan sepertinya memang sudah mashyur berasal dari Sunan
Giri. Jelas Maulana Malik Ibrahim hitungannya adalah kakek bagi Sunan Giri.
Karena Maulana Ibrahim Zaenuddin al-Akbar as-Samarqandi dan Sultan Barakat Zaenal
Alam adalah adik-kakak. Memang terkadang antara Maulana Ibrahim Zaenuddin
al-Akbar as-Samarqandi dan Maulana Malik Ibrahim sering disamakan pada satu
orang karena sama-sama pakai nama Maulana dan Ibrahim. Padahal mereka adalah
sosok yang berbeda, yang satu makamnya di Tuban yang satunya lagi di Gresik.
Bagaimana
dengan Hadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy'ari? Nah ini yang menurut kami sangat
menarik.
Beberapa
tahun yang lalu dalam sebuah blog tertentu, kami pernah melihat perdebatan yang
cukup panas antara yang mempercayai kalau Gus Dur adalah Sayyid dan juga yang
kontra terhadap nasab beliau. Masalahnya yang kami lihat pada waktu itu, banyak
yang kontra terhadap nasab Gus Dur karena dilatarbelakangi sikap beliau yang
sering dianggap "kontroversial" dalam kaca mata beberapa orang.
Padahal kalau kita bicara nasab, ya kita harus jujur dan tegas, apakah dia
Sayyid atau tidak, atau apakah dia sudah menjadi pribumi karena akulturasi, ya
tetap harus dijelaskan. Jika memang data nasabnya tercatat, terpelihara dan
bersanad, mereka tetap merupakan Dzurriyahnya Rasulullah Saw.
Dalam
beberapa sumber yang kami ketahui, dipercaya bahwa leluhurnya Mbah Hasyim ini
adalah berasal dari Klan Basyaiban. Padahal setelah kami teliti dalam catatan
Sayyid Bahruddin Azmatkhan, beliau berasal dari Klan Azmatkhan, terutama
leluhurnya yang bernama Jaka Tingkir. Jaka Tingkir jelas bukan bernasabkan
kepada Basyaiban, namun beberapa keturunannya memang banyak yang menikah dengan
keluarga Basyaiban. Dalam ilmu nasab dinamakan tautan nasab. Artinya Basyaiban
adalah kekerabatan. Hal ini wajar mengingat Basyaiban adalah salah satu fam
yang tua yang masuk ke Nusantara setelah terlebih dahulu masuknya Azmatkhan
yang diwakili oleh keluarga Wali Songo mulai dari Sayyid Husein Jamaluddin sampai
kepada masa berdirinya Majelis Dakwah Walisongo. Perlu diketahui bahwa keluarga
besar Basyaiban itu baru datang pada abad ke 16 sedangkan keluarga Jaka Tingkir
sendiri sudah berada di Jawa sejak abad ke 13.
Jelaslah
jika dinisbatkan langsung kepada fam Basyaiban tidak tepat, namun kalau
kekerabatan nasab memang ada. Leluhur Basyaiban sendiri yang pertama kali
datang ke Jawa adalah Sayyid Abdurrahman Tajuddin (Sunan Pangkunegoro) bin Umar
bin Abdullah bin Abdurrahman bin Umar bin Muhammad bin Ahmad bin Abubakar
Basyaiban. Sayyid Abdurrahman Tajuddin ini kemudian mendapatkan istri dari
cucunya Sunan Gunung Jati. Ada juga yang menulis anak Sunan Gunung Jati yang
bernama Ratu Khadijah. Sedangkan Jaka Tingkir mendapatkan istri anak Sultan
Trenggono bin Raden Fattah.
Dari
generasi saja mereka sudah berbeda, dari tahun sudah berbeda, dari istri sudah
berbeda. Jaka Tingkir lebih banyak di Jawa Tengah dan Jawa Timur (Kesultanan
Pajang) sedangan Sayyid Abdurrahman Tajuddin lebih banyak di Cirebon karena
telah menjadi bagian keluarga besar Sunan Gunung Jati Azmatkhan.
Jaka
Tingkir dalam riwayat mashyur bukanlah anak dari Sunan Giri. Siapapun sejarawan
akan mengetahui bahwa ayah dari Jaka Tingkir ini adalah Ki Ageng Pengging yang
merupakan tokoh sufi besar pada masanya. Dalam catatan Sayyid Bahruddin
Azmatkhan, anak-anak Sunan Giri pun tidak ada yang bernama Jaka Tingkir. Jadi
jelas Jaka Tingkir nasabnya bukan ke Sunan Giri. Kalaupun nanti dihubungkan
dengan Sunan Giri, itu mungkin tautan pernikahan dengan keturunan Sunan Giri
yang selanjutnya.
Pada
intinya Jaka Tingkir memang seorang Sayyid tulen atau Alawiyyin Sejati. Beliau
bernama asli Sayyid Abdurrahman Azmatkhan. Leluhur utamanya adalah Sayyid
Husein Jamaluddin bin Sultan Ahmad Syah Jalaluddin bin al-Amir Abdullah bin
Abdul Malik Azmatkhan bin Alwi Ammul Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath.
Kami
sengaja tidak menampilkan dulu nasab Jaka Tingkir bin Ki Ageng Pengging sampai
kepada Sayyid Husein Jamaluddin karena menunggu dulu izin dari guru kami yang
memegang sanad nasab beliau ini. Namun untuk memastikan nasab Jaka Tingkir ini,
sangat jelas dan tegas, kami katakan bahwa Jaka Tingkir adalah keturunan
Rasulullah Saw. dari jalur Sayyid Husein Jamaluddin bin Sultan Ahmad Syah
Jalaluddin bin al-Amir Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan. Artinya Jaka Tingkir
adalah seorang keturunan al-Imam al-Muhajir al-Bashri al-Husaini. Dari nasabnya
Jaka Tingkir kelak akan lahir ulama-ulama besar seperti KH. Sahal Mahfudz, KH.
Hasyim Asy'ari, Syaikh Mutamakkin dan ratusan ulama besar lainnya yang banyak
berada di Jawa ini.
Kami
juga ingin menegaskan, bahwa nasabnya Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari itu
berada pada urutan ke 36 dari Rasulullah Saw. Sedangkan Gus Dur di urutan ke
38. Jadi kalau selama ini ada nasab yang beredar di internet yang menyebutkan
Gus Dur generasi ke 34, itu adalah generasi yang sangat pendek untuk keturunan
Rasulullah Saw. khususnya pada keluarga besar Azmatkhan.
Rata-rata
keturunan Azmatkhan seperti Mbah Hasyim Asy'ari ini berada di generasi 36 dan
Gus Dur generasi ke 38. Dan ini juga sesuai dengan perjalanan nasab keluarga
besar Alawiyyin lain yang sekarang berada urutan 38-40 atau 40-42. Angka
generasi tersebut adalah normal, namun kalau angka 34 jelas itu ada nama yang
hilang dan tidak tercatat.
Untuk
kasus Mbah Hasyim Asy'ari sebenarnya secara bersanad sudah lama terdata dan
tersimpan dengan baik oleh keluarga besar Sayyid Bahruddin Azmatkhan. Hanya
saja memang tidak dipubilkasikan, mengingat untuk urusan nasab memang harus
langsung dengan keluarga besar sang ulama tersebut. Nasab jelas tidak bisa
diobral, apalagi Mbah Hasyim Asy'ari memang sangat hati-hati dalam masalah
nasab. Memang level Mbah Hasyim ini bukan lagi membicarakan nasab, namun
bagaimanana menjadikan nasab itu sebagai uswah bagi ummat tanpa perlu harus
diumumkan.
Mungkin
ada yang bertanya, kenapa Sayyid Bahruddin bisa menyimpan nasabnya Mbah Hasyim
Asy'ari? Ya tidak anehlah, sebab Sayyid Bahruddin satu perguruan dengan Mbah
Hasyim Asy'ari karena sama-sama pernah menjadi murid Syaikhona Kholil
Bangkalan. Dan Sayyid Bahruddin sekaligus juga pernah berguru langsung kepada
Mbah Hasyim Asy'ari. Sayyid Bahruddin juga satu angkatan dengan KHR. As'ad
Syamsul Arifin. Sayyid Bahruddin lahir tahun 1899 dan wafat tahun 1992.
Di
kalangan Kyai Khos dulu, Sayyid Bahruddin memang dikenal baik. Namun secara
umum beliau jarang muncul, karena memang wataknya seperti itu. Sayyid Bahruddin
secara nasab satu alur dengan Mbah Kholil Bangkalan, mereka sepupuan sekalipun
beda usia. Hubungan antara Sayyid Bahruddin dan Mbah Hasyim sendiri cukup baik,
sehingga tidaklah heran jika sanad keilmuannya Mbah Hasyim banyak dipegang oleh
Sayyid Bahruddin ini.
Jadi
kalau banyak data nasab Mbah Hasyim ada di Sayyid Bahruddin itu adalah hal yang
wajar. Apalagi Sayyid Bahruddin sudan mendata semua nasab sejak tahun 1918
Masehi melanjutkan sanad ilmu nasab dari ayahnya, Sayyid Abdul Rozaq.
Demikianlah pelurusan nasab Mbah Hasyim Asy'ari Azmatkhan al-Husaini.
Sumber
refferensi; 1) Asy-Syaikh as-Sayyid al-'Allamah Bahruddin Azmatkhan al-Husaini
al-Hafidz dalam karyanya "al-Mausu'ah li Ansab al-Imam al-Husaini",
Jakarta: Madawis, 2015. 2) Iwan Mahmud al-Fattah dalam karyanya "Diagram
Nasab Keluarga Besar Azmatkhan al-Husaini", Jakarta: Madawis & Ikrafa,
2014.




