Selasa, 22 Desember 2015

ARTIKEL ; Harlah, Natal, dan Maulid

ARTIKEL ; Harlah, Natal, dan Maulid
Oleh: Abdurrahman Wahid
Penggunaan ketiga kata di atas dalam satu nafas, tentu banyak membuat orang marah. Seolah-olah penulis menyamakan ketiga peristiwa itu, karena bagi kebanyakan kaum Muslimin, satu dari yang lain sangat berbeda artinya. Harlah (hari lahir) digunakan untuk menunjuk kepada saat kelahiran seseorang atau sebuah institusi. Dengan demikian, ia memiliki ‘arti biasa’ yang tidak ada kaitannya dengan agama.
Sementara bagi kaum Muslimin, kata Maulid selalu diartikan saat kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dan kata Natal bagi kebanyakan orang, termasuk kaum Muslimin dan terlebih-lebih kaum Nasrani, memiliki arti khusus yaitu hari kelahiran Isa Almasih.
Karena itulah, penyamaannya dalam satu nafas yang ditimbulkan oleh judul di atas, dianggap ‘bertentangan’ dengan ajaran agama. Karena dalam pandangan mereka, istilah itu memang harus dibedakan satu dari yang lain. Penyampaiannya pun dapat memberikan kesan lain, dari yang dimaksudkan oleh orang yang mengucapkannya.
Kata Natal, yang menurut arti bahasanya adalah sama dengan kata harlah, hanya dipakai untuk Nabi Isa Almasih belaka. Jadi ia mempunyai arti khusus, lain dari yang digunakan secara umum, seperti dalam bidang kedokteran, seperti perawatan pre-Natal yang berarti ‘perawatan sebelum kelahiran. Yang dimaksud dalam peristilahan ‘Natal’ adalah saat Isa Almasih dilahirkan ke dunia oleh ‘perawan suci’ Maryam.
Karena itulah ia memiliki arti tersendiri, yaitu saat kelahiran anak manusia bernama Yesus Kristus untuk menebus dosa manusia. Karena kaum Nasrani mempercayai adanya dosa asal. Anak manusia yang bernama Yesus Kristus itu sebenarnya adalah anak Tuhan, yang menjelma dalam bentuk manusia, guna memungkinkan ‘penebusan dosa’ tersebut.
Karena itu penjelmaannya sebagai anak manusia itu disebut juga oknum, yang merupakan salah satu dari oknum roh suci dan oknum Bapa yang ada di surga.
Sedangkan Maulid adalah saat kelahiran Nabi Muhammad SAW pertama kali dirayakan kaum Muslimin atas perintah Sultan Shalahuddin al-Ayyubi dari Dinasti Mamalik yang berkebangsaan Kurdi. Dengan maksud untuk mengobarkan semangat kaum Muslimin, agar menang dalam perang Salib (Crusade), maka ia memerintahkan membuat peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW tersebut, enam abad setelah Rasulullah SAW wafat.
Peristiwa Maulid itu hingga kini masih dirayakan dalam berbagai bentuk, walaupun Dinasti Sa’ud melarangnya di Saudi Arabia. Karya-karya tertulis berbahasa Arab banyak ditulis dalam puisi dan prosa untuk ‘menyambut kelahiran’ Nabi Agung SAW itu.
Karenanya dua kata (Natal dan Maulid) yang mempunyai makna khusus tersebut, tidak dapat dipersamakan satu sama lain, apapun juga alasannya. Karena arti yang terkandung dalam tiap istilah itu masing-masing berbeda dari yang lain, siapapun tidak dapat membantah hal ini.
Sebagai perkembangan ‘sejarah ilmu’, dalam bahasa teori Hukum Islam (fiqh) kedua kata Maulid dan Natal adalah ‘kata yang lebih sempit maksudnya, dari apa yang diucapkan’ (yuqlaqu al’am wa yuradu bihi al-khash).
Hal ini disebabkan oleh perbedaan asal-usul istilah tersebut dalam sejarah perkembangan manusia yang sangat beragam itu. Bahkan tidak dapat dipungkiri, bahwa kata yang satu hanya khusus dipakai untuk orang-orang Kristiani, sedangkan yang satu lagi dipakai untuk orang-orang Islam.
Natal, dalam kitab suci Alquran disebut sebagai yauma wulida (hari kelahiran, yang secara historis oleh para ahli tafsir dijelaskan sebagai hari kelahiran Nabi Isa, seperti terkutip: “Kedamaian atas orang yang dilahirkan (hari ini)” (salamun yauma wulid) yang dapat dipakaikan pada Beliau atau kepada Nabi Daud.
Sebaliknya, firman Allah dalam surat al-Maryam: “Kedamaian atas diriku pada hari kelahiranku” (al-salamu ‘alaiyya yauma wulidtu), jelas-jelas menunjuk kepada ucapan Nabi Isa. Bahwa kemudian Nabi Isa ‘dijadikan’ Anak Tuhan oleh umat Kristiani, adalah suatu hal yang lain lagi, yang tidak mengurangi arti ucapan Yesus itu.
Artinya, Natal memang diakui oleh kitab suci Alquran, juga sebagai kata penunjuk hari kelahiran Beliau, yang harus dihormati oleh umat Islam juga. Bahwa, hari kelahiran itu memang harus dirayakan dalam bentuk berbeda, atau dalam bentuk yang sama tetapi dengan maksud yang berbeda, adalah hal yang tidak perlu dipersoalkan. Jika penulis merayakan Natal adalah penghormatan untuk beliau dalam pengertian yang penulis yakini, sebagai Nabi Allah SWT, bukan Isa sebagai apa yang diyakini oleh umat nasrani.
Sedangkan Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi (Saladin the Saracen), penguasa dari wangsa Ayyub yang berkebangsaan Kurdi atau non-Arab itu, enam abad setelah Nabi Muhammad SAW wafat, harus berperang melawan orang-orang Kristiani yang dipimpin Richard berhati singa (Richard the Lion Heart) dan Karel Agung (Charlemagne) dari Inggris dan Prancis untuk mempertanggungjawabkan mahkota mereka kepada Paus, melancarkan perang Salib ke tanah suci (Baitul Maqdis).
Untuk menyemangatkan tentara Islam yang melakukan peperangan itu, Salahuddin Al Ayyubi memerintahkan dilakukannya perayaan Maulid Nabi tiap-tiap tahun, di bulan kelahiran beliau. Bahwa kemudian peringatan itu berubah fungsinya, yang tidak lagi mengobarkan semangat peperangan kaum Muslimin, melainkan untuk mengobarkan semangat orang-orang Islam dalam perjuangan (tidak bersenjata) yang mereka lakukan, itu adalah perjalanan sejarah yang sama sekali tidak mempengaruhi asal-usul kesejarahannya.
Jadi jelas bagi kita, kedua peristiwa itu jelas mempunyai asal-usul, dasar tekstual agama dan jenis peristiwa yang sama sekali berbeda. Ini berarti, kemerdekaan bagi kaum Muslimin untuk turut menghormati hari kelahiran Nabi Isa, yang sekarang disebut hari Natal. Mereka bebas merayakannya atau tidak, karena itu sesuatu yang dibolehkan oleh agama.
Penulis menghormatinya, kalau perlu dengan turut bersama kaum Kristiani merayakannnya bersama-sama. Dalam literatur fikih, jika kita duduk bersama-sama dengan orang lain yang sedang melaksanakan peribadatan mereka (kristiani), seorang Muslim diperkenankan turut serta duduk dengan mereka asalkan ia tidak turut dalam ritual kebaktian.
Namun hal ini masih merupakan ‘ganjalan’ bagi kaum Muslimin pada umumnya, karena kekhawatiran mereka akan ‘dianggap kafir’ jika turut berkebaktian yang sama. Karena itulah, kaum Muslimin biasanya menunggu di sebuah ruangan, sedangkan ritual kebaktian dilaksanakan di ruang lain. Jika telah selesai, baru kaum Muslimin duduk bercampur dengan mereka untuk menghormati kelahiran Isa Almasih.
Inilah ‘prosedur’ yang ditempuh oleh para pejabat kita tanpa mengerti sebab musababnya. Karena jika tidak datang melakukan hal itu, dianggap ‘mengabaikan’ aturan negara, sebuah masalah yang sama sekali berbeda dari asal-usulnya. Sementara dalam kenyataan, agama tidak mempersoalkan seorang pejabat datang atau tidak dalam sebuah perayaan keagamaan.
Karena jabatan kenegaraan bukanlah jabatan agama, sehingga tidak ada keharusan apapun untuk melakukannya. Namun seorang pejabat, pada umumnya dianggap mewakili agama yang dipeluknya. Karenanya ia harus mendatangi upacara-upacara keagamaan yang bersifat ‘ritualistik’, sehingga kalau tidak melakukan hal itu ia akan dianggap ‘mengecilkan’ arti agama tersebut.
Ini adalah sebuah proses sejarah yang wajar saja. Setiap negara berbeda dalam hal ini, seperti Presiden AS yang tidak dituntut untuk mendatangi peringatan maulid Nabi SAW. Di Mesir umpamanya, Mufti kaum Muslimin –yang bukan pejabat pemerintahan– mengirimkan ucapan selamat Natal secara tertulis, kepada Paus Shanuda (Pausnya kaum Kristen Coptic di Mesir).
Sedangkan kebalikannya terjadi di Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, bukan pada hari Maulid Nabi SAW. Padahal di Indonesia pejabat beragama Kristiani, kalau sampai tidak mengikuti peringatan Maulid Nabi SAW akan dinilai tidak senang dengan Islam, dan ini tentu berakibat pada karier pemerintahannya.
Apakah ini merupakan sesuatu yang baik atau justru yang buruk, penulis tidak tahu. Kelanjutan sejarah kita sebagai bangsa, akan menunjukkan kepada generasi-generasi mendatang apakah arti moral maupun arti politis dari ‘kebiasaan’ seperti itu.
Di sini menjadi jelas bagi kita, bahwa arti pepatah lain padang lain ilalang, memang nyata adanya. Semula sesuatu yang mempunyai arti keagamaan (seperti perayaan Natal), lama-kelamaan ‘dibudayakan’ oleh masyarakat tempat ia berkembang. Sebaliknya, semula adalah sesuatu yang ‘dibudayakan’ lalu menjadi berbeda fungsinya oleh perkembangan keadaan, seperti Maulid Nabi SAW di Indonesia.
Memang demikianlah perbedaan sejarah di sebuah negara atau di kalangan suatu bangsa. Sedangkan di negeri lain orang tidak pernah mempersoalkannya baik dari segi budaya maupun segi keyakinan agama. Karenanya, kita harus berhati-hati mengikuti perkembangan seperti itu. Ini adalah sebuah keindahan sejarah manusia, bukan?


Sumber : http://santrigusdur.com/2015/12/harlah-natal-dan-maulid/

Selasa, 24 November 2015

ARTIKEL ; Pelurusan Nasab Pendiri NU, Chadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy'ari Al-Huseini

ARTIKEL ; Pelurusan Nasab Pendiri NU, Chadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy'ari Al-Huseini
Mencermati Muktamar NU ke-33 di Jombang kemarin, rupanya ada satu hal yang mengusik hati kami, terutama tentang ditampilkannya nasab Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari pendiri NU dengan KH. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah.
Tadinya kami berfikir mungkin saja ini sebuah uphoria sesaat karena adanya Muktamar. Namun, karena kami melihat bahwa ini adalah urusannya dengan nasab tokoh besar umat Islam Nusantara. Dimana untuk masalah yang satu ini cukup "sensitif" bagi beberapa kalangan, terutama yang berkecimpung dalam dunia ilmu nasab. Maka akhirnya kami pun dirasa perlu turut berkomentar terhadap hal yang satu ini. Apalagi setahu kami kedua-duanya memang bernasabkan kepada keluarga besar Wali Songo.
Yang juga membuat kami tertarik dan jadi ingin menimpali, karena di situ banyak ditemukan generasi-generasi yang "hilang" atau tidak tertulis. Sehingga terkesan terlalu pendek generasinya, terutama nasab Hadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy'ari. Bagi yang berkecimpung dalam ilmu nasab tentu akan bertanya-tanya tentang "pendeknya" nasab pendiri NU itu. Dan repotnya banyak juga yang percaya dengan nasab versi "pendek" tersebut.
Mengenai nasab keduanya, pada intinya beliau-beliau ini memang Sayyid atau Habib atau Keturunan Rasulullah Saw. Hanya saja, terkadang dalam penulisan nasab beberapa orang sering "salah kamar" dalam penyusunan atau penisbatan nama mereka.
Contoh misalnya, nasab KH. Ahmad Dahlan dalam versi film Sang Pencerah. Beliau ditulis dan disebutkan keturunan langsung Maulana Malik Ibrahim Azmatkhan, sesuatu yang sangat mengejutkan kami. Padahal jelas-jelas di keluarga besar KH. Ahmad Dahlan, nasab beliau yang tertera adalah berasal dari Sunan Giri Azmatkhan.
Memang, antara Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Giri itu satu nasab, namun untuk KH. Ahmad Dahlan nasab langsungnya jelas dari Sunan Giri bin Maulana Ishak bin Maulana Ibrahim Zaenuddin al-Akbar as-Samarqandi bin Husein Jamaluddin bin Sultan Ahmad Syah Jalaluddin bin al-Amir Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan. Sedangkan Maulana Malik Ibrahim bin Sultan Barakat Zaenal Alam bin Husein Jamaluddin bin Sultan Ahmad Syah Jalaluddin bin Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan.
Untuk masalah KH. Ahmad Dahlan sepertinya memang sudah mashyur berasal dari Sunan Giri. Jelas Maulana Malik Ibrahim hitungannya adalah kakek bagi Sunan Giri. Karena Maulana Ibrahim Zaenuddin al-Akbar as-Samarqandi dan Sultan Barakat Zaenal Alam adalah adik-kakak. Memang terkadang antara Maulana Ibrahim Zaenuddin al-Akbar as-Samarqandi dan Maulana Malik Ibrahim sering disamakan pada satu orang karena sama-sama pakai nama Maulana dan Ibrahim. Padahal mereka adalah sosok yang berbeda, yang satu makamnya di Tuban yang satunya lagi di Gresik.
Bagaimana dengan Hadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy'ari? Nah ini yang menurut kami sangat menarik.
Beberapa tahun yang lalu dalam sebuah blog tertentu, kami pernah melihat perdebatan yang cukup panas antara yang mempercayai kalau Gus Dur adalah Sayyid dan juga yang kontra terhadap nasab beliau. Masalahnya yang kami lihat pada waktu itu, banyak yang kontra terhadap nasab Gus Dur karena dilatarbelakangi sikap beliau yang sering dianggap "kontroversial" dalam kaca mata beberapa orang. Padahal kalau kita bicara nasab, ya kita harus jujur dan tegas, apakah dia Sayyid atau tidak, atau apakah dia sudah menjadi pribumi karena akulturasi, ya tetap harus dijelaskan. Jika memang data nasabnya tercatat, terpelihara dan bersanad, mereka tetap merupakan Dzurriyahnya Rasulullah Saw.
Dalam beberapa sumber yang kami ketahui, dipercaya bahwa leluhurnya Mbah Hasyim ini adalah berasal dari Klan Basyaiban. Padahal setelah kami teliti dalam catatan Sayyid Bahruddin Azmatkhan, beliau berasal dari Klan Azmatkhan, terutama leluhurnya yang bernama Jaka Tingkir. Jaka Tingkir jelas bukan bernasabkan kepada Basyaiban, namun beberapa keturunannya memang banyak yang menikah dengan keluarga Basyaiban. Dalam ilmu nasab dinamakan tautan nasab. Artinya Basyaiban adalah kekerabatan. Hal ini wajar mengingat Basyaiban adalah salah satu fam yang tua yang masuk ke Nusantara setelah terlebih dahulu masuknya Azmatkhan yang diwakili oleh keluarga Wali Songo mulai dari Sayyid Husein Jamaluddin sampai kepada masa berdirinya Majelis Dakwah Walisongo. Perlu diketahui bahwa keluarga besar Basyaiban itu baru datang pada abad ke 16 sedangkan keluarga Jaka Tingkir sendiri sudah berada di Jawa sejak abad ke 13.
Jelaslah jika dinisbatkan langsung kepada fam Basyaiban tidak tepat, namun kalau kekerabatan nasab memang ada. Leluhur Basyaiban sendiri yang pertama kali datang ke Jawa adalah Sayyid Abdurrahman Tajuddin (Sunan Pangkunegoro) bin Umar bin Abdullah bin Abdurrahman bin Umar bin Muhammad bin Ahmad bin Abubakar Basyaiban. Sayyid Abdurrahman Tajuddin ini kemudian mendapatkan istri dari cucunya Sunan Gunung Jati. Ada juga yang menulis anak Sunan Gunung Jati yang bernama Ratu Khadijah. Sedangkan Jaka Tingkir mendapatkan istri anak Sultan Trenggono bin Raden Fattah.
Dari generasi saja mereka sudah berbeda, dari tahun sudah berbeda, dari istri sudah berbeda. Jaka Tingkir lebih banyak di Jawa Tengah dan Jawa Timur (Kesultanan Pajang) sedangan Sayyid Abdurrahman Tajuddin lebih banyak di Cirebon karena telah menjadi bagian keluarga besar Sunan Gunung Jati Azmatkhan.
Jaka Tingkir dalam riwayat mashyur bukanlah anak dari Sunan Giri. Siapapun sejarawan akan mengetahui bahwa ayah dari Jaka Tingkir ini adalah Ki Ageng Pengging yang merupakan tokoh sufi besar pada masanya. Dalam catatan Sayyid Bahruddin Azmatkhan, anak-anak Sunan Giri pun tidak ada yang bernama Jaka Tingkir. Jadi jelas Jaka Tingkir nasabnya bukan ke Sunan Giri. Kalaupun nanti dihubungkan dengan Sunan Giri, itu mungkin tautan pernikahan dengan keturunan Sunan Giri yang selanjutnya.
Pada intinya Jaka Tingkir memang seorang Sayyid tulen atau Alawiyyin Sejati. Beliau bernama asli Sayyid Abdurrahman Azmatkhan. Leluhur utamanya adalah Sayyid Husein Jamaluddin bin Sultan Ahmad Syah Jalaluddin bin al-Amir Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan bin Alwi Ammul Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath.
Kami sengaja tidak menampilkan dulu nasab Jaka Tingkir bin Ki Ageng Pengging sampai kepada Sayyid Husein Jamaluddin karena menunggu dulu izin dari guru kami yang memegang sanad nasab beliau ini. Namun untuk memastikan nasab Jaka Tingkir ini, sangat jelas dan tegas, kami katakan bahwa Jaka Tingkir adalah keturunan Rasulullah Saw. dari jalur Sayyid Husein Jamaluddin bin Sultan Ahmad Syah Jalaluddin bin al-Amir Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan. Artinya Jaka Tingkir adalah seorang keturunan al-Imam al-Muhajir al-Bashri al-Husaini. Dari nasabnya Jaka Tingkir kelak akan lahir ulama-ulama besar seperti KH. Sahal Mahfudz, KH. Hasyim Asy'ari, Syaikh Mutamakkin dan ratusan ulama besar lainnya yang banyak berada di Jawa ini.
Kami juga ingin menegaskan, bahwa nasabnya Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari itu berada pada urutan ke 36 dari Rasulullah Saw. Sedangkan Gus Dur di urutan ke 38. Jadi kalau selama ini ada nasab yang beredar di internet yang menyebutkan Gus Dur generasi ke 34, itu adalah generasi yang sangat pendek untuk keturunan Rasulullah Saw. khususnya pada keluarga besar Azmatkhan.
Rata-rata keturunan Azmatkhan seperti Mbah Hasyim Asy'ari ini berada di generasi 36 dan Gus Dur generasi ke 38. Dan ini juga sesuai dengan perjalanan nasab keluarga besar Alawiyyin lain yang sekarang berada urutan 38-40 atau 40-42. Angka generasi tersebut adalah normal, namun kalau angka 34 jelas itu ada nama yang hilang dan tidak tercatat.
Untuk kasus Mbah Hasyim Asy'ari sebenarnya secara bersanad sudah lama terdata dan tersimpan dengan baik oleh keluarga besar Sayyid Bahruddin Azmatkhan. Hanya saja memang tidak dipubilkasikan, mengingat untuk urusan nasab memang harus langsung dengan keluarga besar sang ulama tersebut. Nasab jelas tidak bisa diobral, apalagi Mbah Hasyim Asy'ari memang sangat hati-hati dalam masalah nasab. Memang level Mbah Hasyim ini bukan lagi membicarakan nasab, namun bagaimanana menjadikan nasab itu sebagai uswah bagi ummat tanpa perlu harus diumumkan.
Mungkin ada yang bertanya, kenapa Sayyid Bahruddin bisa menyimpan nasabnya Mbah Hasyim Asy'ari? Ya tidak anehlah, sebab Sayyid Bahruddin satu perguruan dengan Mbah Hasyim Asy'ari karena sama-sama pernah menjadi murid Syaikhona Kholil Bangkalan. Dan Sayyid Bahruddin sekaligus juga pernah berguru langsung kepada Mbah Hasyim Asy'ari. Sayyid Bahruddin juga satu angkatan dengan KHR. As'ad Syamsul Arifin. Sayyid Bahruddin lahir tahun 1899 dan wafat tahun 1992.
Di kalangan Kyai Khos dulu, Sayyid Bahruddin memang dikenal baik. Namun secara umum beliau jarang muncul, karena memang wataknya seperti itu. Sayyid Bahruddin secara nasab satu alur dengan Mbah Kholil Bangkalan, mereka sepupuan sekalipun beda usia. Hubungan antara Sayyid Bahruddin dan Mbah Hasyim sendiri cukup baik, sehingga tidaklah heran jika sanad keilmuannya Mbah Hasyim banyak dipegang oleh Sayyid Bahruddin ini.
Jadi kalau banyak data nasab Mbah Hasyim ada di Sayyid Bahruddin itu adalah hal yang wajar. Apalagi Sayyid Bahruddin sudan mendata semua nasab sejak tahun 1918 Masehi melanjutkan sanad ilmu nasab dari ayahnya, Sayyid Abdul Rozaq. Demikianlah pelurusan nasab Mbah Hasyim Asy'ari Azmatkhan al-Husaini.

Sumber refferensi; 1) Asy-Syaikh as-Sayyid al-'Allamah Bahruddin Azmatkhan al-Husaini al-Hafidz dalam karyanya "al-Mausu'ah li Ansab al-Imam al-Husaini", Jakarta: Madawis, 2015. 2) Iwan Mahmud al-Fattah dalam karyanya "Diagram Nasab Keluarga Besar Azmatkhan al-Husaini", Jakarta: Madawis & Ikrafa, 2014.

ARTIKEL ; Para Penjajah Dan Penjarah Dibuatnya Gerah Oleh Mama Eyang Cijerah

ARTIKEL ; Para Penjajah Dan Penjarah Dibuatnya Gerah Oleh Mama Eyang Cijerah
1.      Nama dan Nasabnya
Mama Eyang Cijerah bernama asli KH. Muhammad Syafi’i bin KH.Muhammad Amin (Mama Eyang Pasantren) bin Ta’dzimuddin bin Zainal Arif (Eyang Agung Mahmud) bin Asmaddin bin Shamaddin bin Eyang Dalem Bojong bin Syaikh Abdul Muhyi Safarwadi Pamijahan Tasikmalaya bin Ratu Galuh dan seterusnya hingga bersambung nasabnya ke Rasulullah Saw.

2.      Para Guru dan Muridnya
Diantara para guru Mama Eyang Cijerah adalah Mama Eyang Pesantren, sang ayah (KH. Muhammad Amin), Mama Ahmad Syatibi bin Sa’id Gentur Warung Kondang (ayah dari Mama Aang Nuh), Mama Sempur Tubagus Ahmad Bakri bin Tubagus Ahmad Sida Purwakarta dan para ulama lainnya.
Sedangkan para tokoh yang pernah menjadi murid Mama Eyang Cijerah diantaranya adalah:

a.   Mama Aang Nuh (KH. Abdul Haq Nuh bin Mama Ahmad Syatibi bin Said Gentur)
b.   Mama Sindangsari (yang menjadi murid kesayangan Mama Cijerah dan sahabat dekat Mama Aang Nuh
c.    KH. Ahmad Thaha bin KH. Hasan Mustawi Bojong Mahmud
d.   Mama Karawang (KH. Obay Hasan Bashri)
e.     Ir. Soekarno, Presiden RI pertama
f.     Mama Cibuntu PP Miftahul Jawami’ al-Lathifiyyah (KH. Bahrum) 
g.   Mama Cikungkurak (KH. Salim) Cikungkurak
h.   Mama Singaparna Tasikmalaya (KH. Syujai) 
i.     Mama Cibuntu Bandung (KH. Tafsir) 
j.      Mama Cangkorah Batujajar PP al-Bidayah (KH. Siradj)
k.   Mama Gelar Cianjur (KH. Abdus Shamad) 
l.     Mama Babakan PP Babakan Tipar Sukabumi (KH. Abdullah Mahfudz)
m.  Mama Nakhrawi Tanah Baru Bogor
n.   Mama Burbalinggo PP Probolinggo Jawa Timur
o.   Dan masih banyak yang lainnya.

3.      Karamah Mama Eyang Cijerah
Diantara karamah Mama Eyang Cijerah yang pernah diceritakan oleh H. Muhammad Abi Sufyan dari gurunya, yakni KH. Muhammad Thaha (Mama Sindangsari) bin KH. Muhammad Shawi (Mama Ujungberung) adalah sebagai berikut :
Sehari sebelum Belanda mengadakan penyerangan ke Pesantren Mama Eyang Cijerah, beliau sudah mengetahui dengan mata batinnya (firasat) akan hal itu. Dan benarlah firasatnya itu, tepat pada esok harinya sewaktu pengajian, berdatanganlah tentara Belanda menyerang pesantren Mama Eyang Cijerah. Mama Eyang Cijerah pun berkata kepada para muridnya: “Diamlah! Ada tentara Belanda.”
Murid-muridnya pun diam mengikuti titah sang guru. Setelah itu masuklah tentara Belanda untuk mengobrak-abrik pesantren. Namun tak dilihatnya seorang manusia pun di dalam pesantren itu. Yang ada dan dilihat tentara Belanda waktu itu hanyalah kera-kera. Akhirnya tentara Belanda pun pulang kembali.
Kisah lainnya diceritakan juga bahwa suatu hari pernah seekor kerbau masuk terjebak ke dalam embeul (lumpur mematikan). Datanglah Mama Eyang Cijerah menghampiri kerbau tersebut dan mengangkatnya dengan tongkat kepunyaannya. Seketika kerbau itu pun terbang ke atas dan selamat dengan izin Allah Swt.
Di waktu lain pernah KH. Muhammad Thaha (Mama Sindangsari) diajak bersilarurrahim oleh Mama Eyang Cijerah ke suatu tempat. Berangkatlah keduanya dengan menaiki andong (delman). Tiba-tiba di pertengahan jalan Mama Eyang Cijerah meminta sang kusir untuk melewati tempat para begal (perampok), yang sudah dikenal banyak orang pada saat itu
“Mama Eyang, saya tidak berani melewati jalan itu karena jalan itu banyak perampoknya!” protes sang kusir.
Mama Eyang Cijerah pun menjawab dengan tenang: “Biarlah, paling juga mereka ingin seikat pisang.”
Akhirnya kusir andong itu pun dengan terpaksa mengikuti keinginan Mama Eyang Cijerah. Sesampainya di jalan yang dituju, benarlah apa yang dikatakan sang kusir, mereka dihalang-halangi oleh para perampok. Para perampok dengan paksa menyuruh menurunkan semua barang bawaan yang ada di dalam dokar itu.
Lalu Mama Eyang Cijerah berkata kepada muridnya, KH. Muhammad Thaha: “Jang, kasih perampok itu seikat pisang!”
Maka dikasihlah para perampok itu seikat pisang. Tak lama kemudian tiba-tiba para perampok itu menyuruh jalan kembali tanpa ada barang satu pun yang diambil oleh mereka.

4.      Nasehat-Petuahnya
“Elmu siar dunya tungtut usaha jeung usolli” (Carilah ilmu tiap waktu, dan berusahalah secara bertahap. Serta jangan lupa dirikanlah shalat).
“Di dalam berusaha manusia itu terdiri dari 3 unsur; kulit, daging dan tulang. Kulit artinya kuli (buburuh-bekerja dari orang lain). Daging artinya dagang (berwirausaha). Dan tulang artinya tani (bertani/berkebun ). Maka carilah kecocokanmu dari 3 unsur tersebut. Janganlah menjadi seorang ulama yang thama’ (selalu mengharapkan pemberian orang lain), karena thama’ hukumnya haram.”
“Kaya itu boleh, asal jangan terpikir dalam akal dan terbesit dalam hati.

5.      Sanad Keguruan
Sanad keguruan Mama Eyang Cijerah berikut bersumber dari sanad yang dicatat oleh muridnya, KH. Muhammad Thaha (Mama Sindangsari). Sanad berikut hanya kami cantumkan dua sanad keilmuan, fiqih dan thariqah (tasawuf).
Mama Cijerah belajar ilmu fiqh dari leluhurnya urutan ke-4, yakni Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan, dan urutan ke-27 dari Rasulallah Saw. Berikut adalah uraian sanadnya:

1. Nabi Agung Muhammad Saw. bin Syaikh Abdullah
2. Sayyidina Abdullah bin Umar Ra.
3. Imam Nafi’ bin Hurmuz Ra.
4. Imam Malik bin Anas Ra.
5. Imam Syafi’i Ra.
6. Imam Ibrahim al-Mazani.
7. Imam Abu Sa’id al-Anbathi.
8. Imam Abu Abbas bin Syuraij.
9. Imam Ibrahim al-Maruzi.
10. Imam Abubakar al-Qafal.
11. Imam Abdullah bin Yusuf bin Muhammad al-Juwaini.
12. Imam Haramain Abdul Malik bin Abdullah bin Yusuf bin Muhammad al-Juwaini.
13. Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali.
14. Imam Muhammad bin Yahya.
15. Imam al-Ardabili.
16. Imam an-Nawawi.
17. Imam ‘Atha-uddin al-Athari.
18. Al-Hafidz Abdurrahim al-Iraqi.
19. Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani.
20. Imam Zakariya al-Anshari.
21. Imam Ahmad bin Hajar Al-Haitami.
22. Syaikh Zainuddin al-Malibari.
23. Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan (Safarwadi Tasikmalaya).
24. Syaikh Hasan Musthafa bin Utsman Mas Sastramanggala Karang Anyar Bandung.
25. Syaikh Ahmad Syuja’i Gudang Kota Batik Tasikmalaya.
26. Syaikh Ahmad Syathibi bin Said Gentur Warung Kondang Cianjur.
27. Syaikh Muhammad Syafi’i (Mama Eyang Cijerah) bin KH. Muhammad Amin (Eyang Pasantren) bin Ta’dzimuddin bin Zainal Arif (Eyang Agung Mahmud) bin Asmaddin bin Shamaddin bin Eyang Dalem Bojong bin Syaikh Abdul Muhyi Safarwadi Pamijahan Tasikmalaya.

Adapun Mama Cijerah belajar Thariqah Sattariyyah urutan ke-4 dari leluhurnya, Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan, dan urutan ke-27 dari Rasulullah Saw. Berikut adalah uraian sanadnya;

1. Nabi Agung Muhammad Saw. bin Syaikh Abdullah.
2. Sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw.
3. Sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib Ra.
4. Imam Ali al-Akbar Zainal Abidin as-Sajad bin Husain Ra.
5. Imam Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin Ra.
6. Imam Ja’far ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir Ra.
7. Imam Musa al-Kadzim bin Ja’far ash-Shadiq Ra.
8. Imam Abul Hasan Ali ar-Ridha bin Musa al-Kadzim Ra.
9. Syaikh Abu Mahfudz Ma’ruf Fairuz al-Karkhi Ra.
10. Syaikh Abu Hasan Sari bin al-Mughallas as-Saqathi Ra.
11. Syaikh Abu Yazid Thaifur bin Isa al-Bisthami Ra.
12. Syaikh Muhammad al-Maghribi Ra.
13. Syaikh Abu Yazid al-‘Isyqi Ra.
14. Syaikh Abu Maulana Rumi ath-Thusi Ra.
15. Syaikh Abul Hasan Ali al-Kharqani Ra.
16. Syaikh Hud Qaliyyu Malurin Nahar Ra.
17. Syaikh Muhammad Asyiqi Ra.
18. Syaikh Muhammad Arif Ra.
19. Syaikh Abdullah asy-Syathariyyah Ra.
20. Syaikh Hadiyatullah Saramta Ra.
21. Syaikh al-Haj al-Hudhuri Ra.
22. Syaikh Muhammad Ghauts bin Hataradini Ra.
23. Syaikh Wajhuddin Uluwi Ra.
24. Syaikh Sibghatullah bin Ruhullah Ra.
25. Syaikh Ibnu Mawahib Abdullah Ahmad bin Ali Ra.
26. Syaikh Ahmad bin Muhammad Qishas Ra.
27. Syaikh Abdurrrauf bin Ali al-Fansuri Singkel Ra.
28. Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan (Safarwadi Tasikmalaya) Ra.
29. Syaikh Hasan Musthafa bin Utsman Mas Sastramanggala Karang Anyar Bandung.
30. Syaikh Ahmad Syuja’i Gudang Kota Batik Tasikmalaya.
31. Syaikh Ahmad Syathibi bin Said Gentur Cianjur.
32. Syaikh Muhammad Syafi’i (Mama Eyang Cijerah) bin KH. Muhammad Amin (Eyang Pasantren) bin Ta’dzimuddin bin Zainal Arif (Eyang Agung Mahmud) bin Asmaddin bin Shamaddin bin Eyang Dalem Bojong bin Syaikh Abdul Muhyi Safarwadi Pamijahan Tasikmalaya.


ARTIKEL ; Mbah Kyai Ahmad Siroj Solo

ARTIKEL ; Mbah Kyai Ahmad Siroj Solo
KH. Ahmad Siroj, dikenal dengan sebutan Mbah Siroj Solo, berpakaian khas dengan memakai iket (blangkon), berbaju putih, bersarung ‘wulung’ dan memakai ‘gamparan’ tinggi walau sedang bepergian jauh. Beliau dikenal sebagai seorang ulama yang arif, shaleh dan mempunyai kharisma. Setiap ucapannya, konon, memiliki sejumlah makna (sasmita). Bahkan di jajaran Kota Solo, beliau dikenal sebagai seorang Waliyullah dengan beberapa karomah yang dimilikinya.
Putra Seorang Waliyullah
Kyai Ahmad Siroj adalah putra Kyai Umar (lebih dikenal dengan nama Kyai Imam Pura), salah seorang yang dikenal pula sebagai Waliyullah. Makam Kyai Imam Pura berada di Susukan, Kabupaten Semarang. Kyai Imam Pura masih memiliki garis keturunan dengan Sunan Hasan Munadi, salah seorang paman R. Fatah yang ditugaskan mengislamkan daerah lereng Gunung Merbabu sebelah utara, atau sekarang dikenal sebagai Desa Nyatnyono.
Kyai Ahmad Siroj mempunyai beberapa saudara, diantaranya adalah Kyai Kholil Kauman Solo dan Kyai Djuwaidi Tengaran Semarang. Keduanya sudah almarhum.
Semasa mudanya, Kyai Ahmad Siroj selalu ta’dzim pada gurunya. Bila berjanji selalu ditepati. Bila berkesanggupan, pasti dijalani. Sejak kecil memang beliau telah kelihatan menonjol bila dibandingkan dengan teman-teman seusianya.
Beliau bergaul dengan semua lapisan masyarakat tanpa membedakan suku, agama, ras maupun status sosial dan kelompok moral macam apapun. Dengan penjual bakso di Notosuman yang beragama Katolik dan seorang Tionghoa, beliau berhubungan baik dan saling berkunjung. Bahkan hingga kini setiap ada haulnya Kyai Ahmad Siroj, penjual bakso tersebut berkenan mengirim tiga kambing serta beberapa kuintal beras untuk menyukseskan acara tersebut.
Dengan Romo Petrus Sugiyanto, dijalin juga persahabatan. Kyai Ahmad Siroj sering diundang makan dan sering melakukan sholat di rumahnya. Begitupun Romo tersebut sering mengunjungi beliau.
Kyai Ahmad Siroj tidak segan makan satu piring dengan santrinya atau orang yang menginginkan mendekati beliau. Bila mereka butuh uang, beliau tidak segan-segan membantunya. Sebaliknya, bila beliau meminta uang, bukan untuk diri pribadi tapi untuk orang lain yang membutuhkannya.
Guru-guru Kyai Ahmad Siroj
Sewaktu masih muda, Kyai Ahmad Siroj berguru kepada beberapa ulama besar diantaranya:
·         Di Pesantren Mangunsari Nganjuk Jawa Timur, beliau menimba ilmu kepada Kyai Bahri.
·         Di Pesantren Tremas Pacitan Jawa Timur, beliau berguru kepada KH. Dimyati at-Termasi.
·         Di Semarang, beliau berguru kepada Kyai Sholeh Darat.
Dikenal Ahli Ibadah
Kyai pengikut Thariqah Qadariyah Naqsabandiyah ini terkenal sebagai ‘abid (ahli ibadah). Beliau senantiasa berjamaah shalat lima waktu, jarang sekali beliau shalat sendirian. Shalat sunnah rawatib, qabliyah dan ba’diyah selalu dijalankan secara lengkap. Yang empat rakaat dijalankan empat rakaat.
Shalat Dhuha dilaksanakan oleh beliau secara kontinyu sebanyak delapan rakaat, meskipun sedang berada di rumah orang lain. Sedangkan antara Maghrib dan Isya, beliau melakukan shalat Awwabin.
Doa yang banyak dipanjatkan oleh beliau adalah: “Ya Allah, Tuhan kami, Engkaulah yang kami tuju dan ridhaMu yang kami cari. Berilah kepada kami ridhaMu dan kecintaanMu serta ma’rifatMu.”
Silaturahmi termasuk ibadah yang beliau gemari dan rajin dilakukan. Beliau acapkali menerima tamu dari pelbagai kalangan dan tamu-tamu itu dilayaninya dengan baik. Saat tengah malam tiba, beliau selalu bangun untuk menjalankan shalat Tahajjud atau qiyamullail.
Semasa hidup, beliau mendirikan pesantren di Jalan Honggowongso 57 Kelurahan Panularan, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah di atas tanah seluas 200 m². Kitab yang diajarkan oleh beliau, selain al-Quran dan al-Hadits, adalah Sullamut Taufiq, Safinatun Najah, Duratul Bahiyyah dan Fathul Qorib. Selain itu banyak pula ajaran beliau yang sifatnya hafalan.
Beberapa Karomah Mbah Siroj
Kyai Ahmad Siroj memiliki beberapa karomah sebagai perwujudan kewaliannya. Yang dimaksud karomah di sini adalah kejadian yang luar biasa, di luar kebiasaan, yang timbul dari Waliyullah. Kalau timbul dari Nabi disebut mu’jizat, sedangkan dari mukmin yang shaleh dinamakan ma’unah. Beberapa karomah yang ada pada diri beliau diantaranya adalah:
a.      Kasyaf
Beliau mempunyai kemampuan melihat yang tidak diketahui oleh mata biasa (kasyaf). Peristiwa ini terjadi saat tentara Belanda akan masuk Kota Solo ketika aksi kolonial kedua atau dikenal sebagai clash ke-2 pada tahun 1948. Satu seksi lascar Hizbullah yang terdiri dari 50 orang, berkumpul di Begalon, Panularan. Kyai Ahmad Siroj tiba-tiba datang mengadakan inspeksi.
Seorang anggota lascar Hizbullah bernama Hayyun, 25 tahun, tiba-tiba didekati beliau lalu dipeluknya seraya berucap: “Ahlul jannah … ahlul jannah”.
Tak lama kemudian, datang tentara Belanda dengan sejumlah pasukan tank, lewat Pasar Kembang ke arah selatan. Hayyun maju dengan beraninya sendirian sambil membawa granat nanas, lalu dicabutnya dan melompat sambil melempar granat ke arah tank. Ketika tank meledak, terbakarlah tentara Belanda yang berada di dalam tank juga termasuk Hayyun, si pelempar granat tersebut.
Menurut salah seorang saksi mata, H. Abdullah Adnan, veteran pejuang RI eks Laskar Hizbullah dan pasukan “Lawa-Lawa” di bawah komandan Letnan Fathul Rujito yang kini tinggal di Yogyakarta, menuturkan bahwa tahulah kemudian Laskar Hizbullah, teman-teman Hayyun, mengapa beberapa saat sebelumnya mBah Siroj memeluknya sambil berucap “ahlul jannah … ahlul jannah”. Begitulah, Hayyun gugur sebagai syuhada, patriot bangsa.

b.      Berulangkali berhaji
Secara lahiriah, Kyai Ahmad Siroj belum pernah menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Tetapi banyak orang yang ke tanah suci Mekkah bertemu beliau di sana. KH. Bulqin Zuhdi, salah seorang murid pertama Kyai Ahmad Siroj yang bermukim di Nglangak, Gemolong, Sragen menceritakan bahwa pada tahun 1937 dirinya menunaikan ibadah haji. Berangkat dengan naik kapal laut bersama 1960 orang jamaah haji lainnya.
Sehabis makan siang, Kyai Bulqin berkata dalam hati, bila sampai di Mekkah pada hari Jum'at waktu Shubuh, akan dicarinya Mbah Siroj. Sebab, sering didengarnya ada seorang waliyullah sering shalat Shubuh di Mekkah pada hari Jum'at. Sesaat kemudian, tiba-tiba datanglah Kyai Ahmad Siroj menemuinya di kapal. Ditanyakan antara lain, siapakah syaikhnya di tanah suci nanti. Setelah berbincang sejenak, Kyai Ahmad Siroj tidak dilihatnya lagi. Sudah barang tentu, muridnya tersebut merasa keheranan.
Ketika sudah sampai di Mekkah, Kyai Bulqin hendak menjalankan shalat Shubuh. Kyai Bulqin berpikir lagi tentang kemungkinan-kemungkinan gurunya juga menunaikan shalat Shubuh di Mekkah. Mungkinkah Kyai Ahmad Siroj juga datang seperti kisah yang pernah didengarnya.
Sewaktu berada di dekat Hajar Aswad, tiba-tiba tampak olehnya Mbah Siroj sedang melakukan tawaf, mengelilingi Ka’bah dengan memakai iket (blangkon), berbaju putih, bersarung ‘wulung’ tanpa gamparan. Diikutinya putaran demi putaran. Pada putaran ke tujuh Kyai Bulqin hendak menyalami Mbah Siroj, namun pada putaran terakhir sudah tidak tampak lagi.
Meski menyesal tidak dapat bersalaman dengan Mbah Siroj, kini Kyai Bulqin menjadi yakin bahwa yang tidak mungkin bagi orang biasa bagi waliyullah seperti Kyai Ahmad Siroj mungkin-mungkin saja.

c.       Berjalan Super Cepat
Waktu Kyai Shoimuri, putra Kyai Ahmad Siroj, selesai mengadakan akad nikah dengan Nyai Latifah di daerah Boyolali, rombongan Kyai Ahmad Siroj hendak segera pulang ke Solo bersama 33 santrinya. Kyai Bulqin, salah seorang murid santrinya, disuruh mengantarkan pulang rombongan Nyai Siroj dengan naik kereta api. Ia disuruh berangkat lebih dahulu, sedangkan Kyai Ahmad Siroj akan menyusul dengan jalan kaki.
Anehnya, rombongan Kyai Bulqin baru sampai Ngapeman sedangkan Mbah Siroj sudah sampai di rumahnya di Panularan, Laweyan, Solo. "Bagaimana hal itu dapat terjadi?" pikir para rombongan yang berangkat lebih dahulu tersebut.
Kejadian serupa juga dialami oleh Nyai Sa’diyah Ali. Suatu ketika bersama Kyai Ahmad Siroj bepergian ke Boyolali dari Karang Gede. Waktu berangkat sudah adzan Maghrib. Sesampai di Masjid Dawung, Boyolali, belum qomat, masih pujian. Padahal kedua tempat itu jauh dan ditempuh dengan jalan kaki.
H. Dasuki pun pernah mengalami hal serupa. Suatu ketika diminta Mbah Siroj mengikuti beliau bepergian dari Desa Paesan ke Boyolali yang jaraknya sekitar 10 km. Sesampainya di tempat yang dituju, tasbih Kyai Ahmad Siroj masih tertinggal di Paesan. Lalu, disuruhnya H. Dasuki mengambilkannya, berjalan kaki pulang balik. Waktu berangkat sudah adzan Maghrib. Anehnya, waktu kembali di Masjid Kokosan, Boyolali, belum qomat Maghrib. Menurutnya, itu berkah Kyai Ahmad Siroj.

d.      Nasi Satu Kendil
Suatu ketika Kyai Ahmad Siroj bepergian bersama 24 santrinya ke Susukan Semarang dari Solo. Tuan rumah yang dikunjungi termasuk orang tidak mampu (miskin). Untuk memuliakan tamu, dimasakkannya oleh Abdus Syakur, tuan rumah, satu kendil nasi. Karena nasi terbatas, Kyai Ahmad Siroj sendirilah yang dipersilakan makan di dalam kamar.
Namun Kyai Ahmad Siroj tidak bersedia. Nasi dimintanya dihidangkan di ruang depan. Para santrinya sedang duduk bersila di situ. Nasi satu kendil itu dibagi-bagikan kepada semua tamu. Anehnya, setiap orang mendapatkan satu piring penuh, cukup untuk makan kenyang.

e.       Erat dengan Para Raja
Sekitar tahun 1935, Kyai Ahmad Siroj mengajak Imam Muslim bepergian. Sesampai di Pura Mangkunegara, mereka terus masuk. Di Pendapa Mangkunegaran, Kyai Ahmad Siroj bertemu dengan seseorang yang tidak dikenal oleh Imam Muslim. Dua insanpun segera saling berpelukan erat, menggambarkan saling melepas rindu, setelah lama tak bersua. Lalu, mereka menuju ke belakang, duduk berhadapan sambil berbincang seperlunya.
Akhirnya, mengertilah Imam Muslim bahwa yang saling berbincang antara Kyai Ahmad Siroj dengan orang tersebut tidak lain adalah Kanjeng Gusti Adipati Arya (KGAA) Mangkunegara VII. Perbincangan tersebut berakhir sekitar pukul 02.30 dini hari, lalu mereka segera meninggalkan Pura Mangkunegaran. Sesampai di Pasar Pon, pohon asam yang berdahan tinggi diraih Kyai Ahmad Siroj untuk menghentikan sepeda motor yang datang dari arah timur. Penumpangnya pun berhenti, lalu turun.
Sebagaimana kejadian di Pura Mangkunegaran, di tempat inipun keduanya saling berpeluk erat, menunjukkan keakraban. Setelah berbincang sejenak, berpisahlah keduanya.
Dari percakapan Kyai Ahmad Siroj dengan penumpang motor tersebut, Imam Muslim barulah mengetahui bahwa ternyata yang bersepeda motor lalu berhenti dan bercakap-cakap dengan Kyai Ahmad Siroj, tidak lain adalah Ingkang Sampeyandalem Sri Susuhunan Paku Buwono X, Raja Kasunanan Surakarta yang termahsyur.

f.        Pintu Terkunci, Bisa Masuk
Semasa kecil, Ahmad Siroj, tinggal serumah dengan Kyai Abdus Syakur, kakak iparnya. Sesekali anak ini kena ‘slenthik’ karena kenakalannya. Suatu malam, Kyai Abdus Syakur pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat. Pintu rumah pun kemudian ditutup, dan dikunci dari luar. Maklum, Ahmad Siroj di kala itu sedang pergi ke luar rumah juga.
Sepulang shalat Isya, Kyai Abdus Syakur merasa heran. Sesampai di halaman rumahnya, dari dalam rumah sudah terdengar suara anak sedang tadarrus dengan suara yang nyaring. Anak yang sedang tadarrus itu adalah Ahmad Siroj. Lalu ditanya: “Kau lewat mana, Nak?”
Dijawab oleh Ahmad Siroj: “Inggih lewat mriku mawon.” (Ya melalui situ juga).
Sejak itu, Kyai Abdus Syakur tak pernah lagi memberi ‘slenthikan’ padanya
Kali yang lain, Kyai Abdus Syakur pergi ke Desa Petak untuk mendatangi acara syukuran perkawinan.
Ahmad Siroj yang masih bocah di kala itu disuruh tinggal di rumah. Alangkah terkejutnya, sesampai di tempat upacara perkawinan, ternyata Ahmad Siroj telah berada di situ.
Seusai upacara perkawinan, Kyai Abdus Syakur pun pulang lebih dahulu. Tidak kurang herannya, sesampai di rumah, Ahmad Siroj telah berada di dalam rumah. Lalu, hal itu ditanyakan kepada Ahmad Siroj, dan dijawab: “Kang, jarene aku kon tunggu omah.” (Kak, katanya saya disuruh nunggu rumah).

g.      Meski Hujan Tak Basah
Bersama dua santrinya, suatu ketika Kyai Ahmad Siroj bepergian ke Desa Penggung. Ketika pulang, di tengah jalan turunlah hujan lebat. Terpaksalah berhenti, mampir ke Desa Grabagan. Kedua santri yang mengikuti Kyai Siroj basah kuyup bajunya, tetapi Kyai Ahmad Siroj tidak apa-apa, tetap kering bajunya.

h.      Sungai Banjir Besar Terlewati
Suatu hari, Kyai Siroj bersama seorang santri pergi menuju ke Desa Magu. Untuk keperluan shalat Dhuha, berhentilah sebentar di Desa Rejasa. Seusai mengucapkan salam, santripun disuruhnya berangkat terlebih dahulu. Kyai Ahmad Siroj akan menyusulnya kemudian.
Dalam perjalanannya, santri tersebut terhenti di tengah jalan karena harus menyeberangi sungai yang airnya sedang besar-besarnya. Tak disangka, Kyai Ahmad Siroj dilihatnya telah berada di seberang sungai. Dengan berteriak, santri pun bertanya: “Gus, Sampeyan niku wau medal pundi?” (Gus, Anda tadi lewat mana?)
Jawab Kyai Ahmad Siroj: “Ah, ya metu kono kuwi ta, lha metu ngendi maneh!” (Ah, ya melalui situ juga, lha lewat mana lagi kalau bukan di situ!)
Karena santri tersebut disuruh menyeberang tidak berani, Kyai Ahmad Siroj perintahkan padanya agar pulang saja.

i.        Bak Air Kosong, Penuh Tiba-Tiba
Pada suatu ketika, Kyai Ahmad Siroj sedang berkunjung ke rumah Muhyi di Cepogo. Bak air (pengaron) yang berada di rumahnya, diminta oleh Kyai Ahmad Siroj untuk dibersihkan agar supaya bisa diisi dengan air.
Setelah pengaron bersih, Muhyi lalu pergi ke sumur untuk mengambil air guna diisikan pada pengaron tadi. Namun, alangkah terkejutnya ketika Muhyi hendak menuangkan air ke dalam pengaron tersebut, ternyata pengaron kosong tadi telah penuh berisi air.

j.        Impian Jadi Kenyataan
Pada suatu saat, Kyai Ahmad Siroj memerlukan shalat Jum'at berturut-turut selama 7 Jum'at di masjid yang di kemudian hari dikenal dengan nama Masjid Al-Muayyad yang terletak di Jalan KH. Samanhudi 64 Mangkuyudan, Solo.
Pada malam Jum'at minggu ke-7, Kyai Asfari (kala itu berstatus duda) mimpi dianjurkan Kyai Ahmad Siroj agar menikah dengan Nyai Syafi’ah. Jum'at siang, sehabis shalat Jum'at di Masjid Al-Muayyad, Kyai Ahmad Siroj singgah ke rumah dekat masjid tersebut. Di samping Kyai Asfari berada di situ, juga KH. A. Umar Abdul Mannan. Jamuan makan siang pun disajikan. Kebetulan yang menghidangkan Nyai Syafia’ah juga.
Seketika itu juga, Kyai Ahmad Siroj memerintahkan agar Kyai Asfari pergi (sowan) ke rumah Kyai Manshur di Popongan, Delanggu, Klaten. Ternyata perintah Kyai Manshur sama dengan Kyai Ahmad Siroj sebelumnya. Malah ditetapkan hari tanggalnya sekaligus. Setelah diingat-ingatnya, ternyata 3 tahun yang lalu KH. A. Umar Abdul Mannan pernah diperintah memotong kambing pada hari/tanggal tersebut (tepat pada hari/tanggal ijab Kyai Asfari dengan Nyai Syafi’ah).

k.      Meninggal, Beri Impian
Ketika Kyai Ahmad Siroj sakit yang selanjutnya meninggal dunia pada Senin Pahing, 27 Muharram 138 H/10 Juni 1961 M, Kyai Zaenal Makarim (Karang Gede) mimpi bertemu Kyai Ahmad Siroj. “Mengapa saya sakit tak kau jenguk?” Tanya Kyai Ahmad Siroj kepada Kyai Zaenal Makarim dalam mimpi.
Terperanjatlah Kyai Zaenal Makarim, lalu seketika beliau berangkat ke Solo untuk menjenguk Kyai Ahmad Siroj. Sesampai di Solo, ternyata jenazah telah diberangkatkan sampai di Jalan Rajiman, Kadipolo. “Innalillahi wainna ilaihi raji’un. Dari Allah kita berasal, dan kepadaNya pula kita akan kembali” ucapnya kemudian.
Kejadian serupa juga dialami oleh Sayyid Abdullah di Kepatihan, Solo. Pada pagi hari itu, sekitar pukul 05.00 WIB mimpi didatangi Kyai Ahmad Siroj, dan membangunkannya seraya berucap “Sampun nggih Bib, kula rumiyin, sampeyan kantun.” (Sudah dulu ya Bib, saya duluan, Anda nanti menyusul).
Alangkah terkejutnya Sang Habib. Seketika itu pula, Sayyid Abdullah pergi ke Panularan di rumah Kyai Ahmad Siroj. Ternyata dapat berita, bahwa Kyai Ahmad Siroj telah meninggal dunia pada pukul 04.00 pagi hari itu. “Anehnya, pukul 04.00 pagi Kyai Ahmad Siroj meninggal, pukul 05.00 laksana berkunjung ke Kepatihan”, kata Sayyid Abdullah dalam hati tidak kurang herannya.
Doa pun segera dipanjatkan bagi almarhum Kyai Ahmad Siroj. Kyai Ahmad Siroj dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Makam Haji, Kartasura, Sukoharjo.

Semasa hidup, Kyai Ahmad Siroj tidak pernah mengaku sebagai seorang waliyullah secara pribadi. Namun, banyak orang mengakui kewalian almarhum beserta karomahnya. Contoh di atas hanyalah sebagian karomah yang dimiliki Kyai Ahmad Siroj untuk membuktikan kewalian almarhum. Tentu saja masih banyak karomah lain yang belum terungkap di sini. Karena masih banyak cerita di masyarakat Solo perihal ‘keistimewaan’ Kyai Ahmad Siroj dalam kepribadiannya.